Ari Crisdayanti (SMA N Bali Mandara)

Cerdas Belum Tentu Lulus, Jangan Biarkan
Monday, March 24th, 2014
Salah satu kegiatan seremonial tahunan Indonesia, Ujian Nasional selalu menjadi sorotan utama di bidang pendidikan. Seperti tahun-tahun sebelumnya selalu saja ada siswa yang gagal dalam tahap akhir pencapaian kelulusan tersebut. Jumlahnya pun tidak sedikit dan untuk menekan angka tersebut munculah berbagai siasat kecurangan yang semata-mata untuk memenuhi standar kelulusan nasional. Dengan fenomena ini, masih bisakah UN dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan bangsa Indonesia. Meskipun begitu, masih banyak pula sekolah yang lebih mengutamakan tingkat kejujuran siswanya walau konsekuensinya banyak sekolah yang siswanya tidak lulus hingga 100 %. Hal ini pun pernah dialami oleh siswa-siswi salah satu SMA di Batam. Ketatnya pengawasan pada saat ujian nasional di sekolah tersebut, merupakan contoh bahwa masih ada sistem yang jujur di Indonesia. Namun akibatnya, 100 % siswa yang mengikuti UN dinyatakan tidak lulus.

UN tidak sepenuhnya menentukan kemampuan seseorang
Fakta tentang ketidaklulusan UN juga sempat dialami seorang siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kecamatan Suruh yang merupakan salah satu siswa berprestasi di sekolahnya dan menjuarai berbagai olimpiade fisika. Seketika itu juga, Alex Arida yang tak kuasa menahan kekecewaan langsung memeluk ibunya saat pengumuman kelulusan dibacakan. Hal itu pun memaksanya menunggu satu tahun lagi untuk bisa menerima ijasah kelulusannya. Siswa-siswi yang bersusah payah mengejar  prestasi di berbagai bidang mata pelajaran harus tergantung pada ujian nasional yang hanya memberikan waktu 2 jam untuk tiap mata pelajaran. Seperti “kemarau setahun dihapus hujan sehari”, hal itu tentunya tak sebanding dengan jerih payah mereka yang mengenyam pendidikan selama 3 tahun. Ketidaklulusan tersebut juga mengakibatkan sejumlah siswa harus mengulang pendidikannya atau mengikuti program kejar paket C secara sembunyi-sembunyi karena malu dengan hasil ujiannya.

Polemik kecurangan UN
Inilah kasus polemik pendidikan di Indonesia. Sudah bertahun-tahun Indonesia berdiri, seperti belum peka dengan permasalahan yang terjadi. Kasus jebolnya nilai UN merupakan andil dari berbagai pihak dan untuk menanggulangi permasalahan tersebut, Indonesia kembali menelan ludah karena pendidikan karakter telah digeser oleh sejumlah kecurangan.

Turunnya kualitas pendidikan karena hasil UN yang anjlok tentu berimbas pada pihak sekolah yang bersangkutan. Sekolah-sekolah yang dianggap belum mampu mencapai target tersebut akan mendapatkan konsekuensinya. Kali ini beberapa Kepala Sekolah terancam dicopot dari jabatannya karena permasalahan tersebut. Hal inilah yang kemudian menimbulkan kecurangan untuk menghindari berbagai tudingan akan hal tersebut. Seolah tak pernah bercermin, guru yang selalu menasehati dan menjadi teladan bagi siswanya justru menjerumuskan mereka untuk melakukan kecurangan-kecurangan dalam UN. Bahkan beberapa siswa mengaku mereka diijinkan untuk menyontek dan bekerja sama dengan temannya. Tak jarang juga beberapa guru secara langsung memberikan kunci jawaban atau bocoran kepada muridnya.
Beginilah UN, mementingkan hasil namun mengesampingkan proses.  UN  hanya sebagai panggung sandiwara dimana guru,  orangtua, dewan pendidikan dan komite sekolah bertahun-tahun beradu peran menempa pendidikan anak-anak itu. Masa depan siswa pun terancam hancur hanya karena satu mata pelajaran jeblok. Inilah mutu pendidikan yang didasarkan pada angka-angka (mark oriented). Bisa dibilang kini UN hanya formalitas. Tak peduli bagaimana pun caranya agar bisa mencapai target yang ditentukan.

Kesenjangan dalam UN
Satu lagi masalah kesenjangan di dunia pendidikan. Anak-anak yang bersekolah di kota besar, dengan kelas ber-AC, mengikuti bimbingan belajar setiap sore, mengerjakan soal yang sama dengan anak yang tinggal jauh di pedalaman, mendaki gunung dan menembus hutan agar bisa mencapai sekolahnya yang reyot dan usang. UN dijalankan dengan tidak melihat berbagai kesenjangan itu. Inilah Indonesia, “pendidikan untuk semua” selalu didengungkan, namun hanya ucapan belaka. Kalau ingin UN dijalankan dan menentukan kelulusan, seharusnya semua anak bisa merasakan fasilitas pendidikan yang sama terlebih dahulu. Parahnya lagi, selama ini tidak semua anak yang tidak lulus mampu mengikuti ujian susulan, yang bahkan untuk tahun ini mekanisme tersebut dihapuskan, lalu bagaimana nasib mereka? Sebagian memutuskan untuk tidak bersekolah alias putus sekolah, karena dalam pikiran orangtua-orangtua murid yang sangat sederhana, sekolah yang sudah dibayar mahal hanya menjadi sumber masalah ketika anak tidak lulus. Bagi mereka sekolah sudah tidak terlalu penting. Angka putus sekolah pun meningkat dan tentunya ini bertentangan dengan program Wajib Belajar 9 tahun yang tercantum pada Undang-Undang No 20 tahun 2003 mengenai  sistem pendidikan nasional.

Bagaimana sebaiknya sistem pendidikan berjalan?
Guru merupakan subjek penting dalam menunjang kualitas pendidikan. Seperti pepatah mengatakan bahwa “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Kerja keras mereka tak selamanya mendapatkan balasan yang setimpal. Itulah mengapa para guru rata-rata mengajar hanya terpatok pada pembelajaran yang sangat formal. Menjalankan tugas selayaknya guru sudah dirasa cukup karena belum tentu juga mereka akan dibayar untuk pembelajaran yang menyenangkan dan intensif. Justru itu hanya akan menambah beban mereka mengajar.
Pemikiran seperti itu perlu dirubah dan mekanisme pendidikan di Indonesia perlu berbenah. Mulai dari tingkat satuan pendidikan terkecil yaitu sekolah itu sendiri. Guru dan siswa yang menjadi objek utama dalam proses belajar mengajar harus memiliki koordinasi yang baik untuk menciptakan suasana belajar yang intensif dan menyenangkan. Selama ini yang kita tahu teknik mengajar seorang guru tak jarang membuat siswanya mengantuk di kelas. Untuk itu guru harus pintar-pintar menciptakan variasi pembelajaran sehingga para siswa antusias dalam belajar.

Misalnya belajar dengan gambar atau sambil mendengarkan musik tertentu akan merangsang minat belajar anak. Proses belajar mengajar juga perlu diselingi dengan permainan yang melatih konsentrasi sehingga dapat meningkatkan konsentrasi anak dalam menerima suatu pelajaran. Teknik-teknik pembelajaran seperti ini pun sudah mulai dikembangkan, seperti halnya siswa-siswi SMAN Bali Mandara (Bali Academy) yang telah merasakan manfaat dari sistem belajar yang variatif dan menyenangkan. Selain itu, mereka juga perlu dilatih daya ingatnya dengan memberikan tes sebelum atau pun sesudah pelajaran. Dalam hal ini guru dan murid dituntut untuk lebih berpikir kritis.

Mutu serta kualitas pendidikan tentunya ditunjang juga dengan fasilitas pendidikan yang memadai dan ini masih tetap menjadi PR pemerintah dalam meratakan fasilitas pendidikan bagi seluruh siswa di Indonesia. Tentunya ini juga menjadi kewajiban semua subjek di bidang pendidikan  untuk meningkatkan pendidikan yang berkualitas serta bebas dari kecurangan.