Balai Bahasa Siap Lestarikan Bahasa Bali

Tuesday, March 5th, 2013
pak wayan
Balai Bahasa Provinsi Bali mengemban sejumlah tugas mulia sesuai dengan fungsinya. Tugas Balai Bahasa Provinsi Bali adalah melaksanakan penelitian, pengembangan dan pembinaan bahasa dan sastra daerah. Demikian dijelaskan Kepala Tata Usaha yang juga Koordinator Intern Balai Bahasa Provinsi Bali Drs. I Wayan Sudiartha,M.Hum.

Ditemui di Gedung Balai Bahasa Provinsi Bali Jalan Trengguli Tembau Denpasar, Kamis (21/2/2013) lalu bapak yang berpenampilan sederhana ini menjelaskan tugas Balai Bahasa Provinsi Bali adalah melaksanakan penelitian, pengembangan dan pembinaan bahasa dan sastra daerah sesuai dengan fungsi Balai Bahasa itu sendiri. Fungsi Balai Bahasa yakni, melaksanakan kebijakan teknis Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di bidang pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia, merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis di bidang pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia di daerah dan bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan teknis di bidang kebahasaan dan kesastraan daerah Bali.

Menurut pelaksana harian Kepala Balai Bahasa Provinsi Bali ini, dengan memperhatikan fungsi Balai Bahasa tersebut maka tugas Balai Bahasa Provinsi Bali juga mencakup upaya-upaya merumuskan kebijakan teknis di bidang kebahasaan dan sastra Bali. ”Memang ada kebijakan kurikulum 2013 yang akan menggabungkan pelajaran Bahasa Bali ke dalam mata pelajaran seni budaya, tetapi Balai Bahasa Provinsi Bali berkewajiban untuk terus melakukan pengembangan, pelestarian dan pewarisan Bahasa Bali,” ujarnya.

Menurutnya, bahasa dan sastra daerah Bali, sama seperti bahasa dan sastra daerah di Indonesia merupakan lambang kebanggaan nasional, lambang kebanggaan daerah, lambang identitas dae­rah dan sarana pendukung sastra Indonesia. Karena itu keberadaannya harus terus dipertahankan dengan melakukan pembinaan dan pengembangan. Dalam kaitan dengan bahasa Indonesia, bahasa Bali merupakan pendukung bahasa Indonesia, bahasa pengantar pendidikan tingkat pemula dan sumber pemerkaya bahasa Indonesia. ”Jadi tak ada alasan untuk menghilangkan bahasa Bali dari ranah pendidikan formal. Saya yakin pasti ada kebijakan lain dari pemerintah agar bahasa Bali tetap diajarkan sebagai mata pelajaran di sekolah,” ujar pria yang dikenal juga sebagai salah satu peneliti handal bidang kebahasaan ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, perencanaan bahasa di Indonesia men­cakup pembinaan dan pengem­bangan. Pembinaan bahasa sasarannya ke pemakai bahasa untuk meningkatkan mutu pemakaian bahasa sedangkan pengembangan bahasa sasarannya adalah bahasa itu sendiri untuk ditingkatkan agar mampu mengemban fungsi dalam statusnya sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. ”Upaya pembinaan terdiri dari pengajaran bahasa dan pemasyarakatan bahasa Indonesia yang baik dan benar sedangkan pengembangannya mencakup penelitian, pembakuan dan pelestarian bahasa,” ujarnya.

Dikatakannya, upaya pembina­an dan pengembangan bahasa diperkuat dengan penyediaan berbagai sarana, peraturan dan sumber daya manusia. Para guru memiliki peran penting dalam kebijakan bahasa. Melalui proses pembelajaran, mendidik siswa menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan juga membinanya. “Para guru harus menjadi contoh dalam praktek berbahasa sehari-hari, termasuk dalam kebiasaan menulis. Penulisan karya ilmiah adalah pemakaian bahasa yang paling intens,” ujarnya.
Setujukah kalian jika Bahasa Bali dihapuskan dari kurikulum? Mengapa? Kirimkan komentar atau pendapatmu via SMS ke 5667 dengan cara ketik IMOBEDU<>Komentarmu/ pendapatmu. Berlaku untuk pengguna telkomsel dengan tariff 1000+ppn/SMS.   gus


Balai Bahasa Provinsi Bali
Menjadi Payung Pewarisan Bahasa dan Sastra

duta bahasa
Mungkin banyak yang belum mengenal Balai Bahasa Provinsi Bali. Lembaga yang menempati kantornya di Jalan Trengguli Denpasar Utara ini sesungguhnya sudah berada di Bali sejak tahun 1947 atau hanya dua tahun setelah Indonesia merdeka. Apa saja kegiatan Balai Bahasa Provinsi Bali?

Menurut Koordinator Intern Balai Bahasa Provinsi Bali Drs. I Wayan Sudiartha,M.Hum, tahun 1947 dibentuk sebuah lembaga bernama Taal Ambtenaar voor Bali di Singaraja. Waktu itu Singaraja adalah Ibukota Negara Indonesia Timur (NIT) yang merupakan bagian dari Negara Indonesia Serikat (RIS) yang mencakup wilayah Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku.

Tahun 1950 Taal Ambtenaar voor Bali berganti nama menjadi Kantor Penyelidikan Bahasa dan Budaya yang berkantor di Singaraja. Kemudian pada tahun 1952 berubah menjadi Lembaga Bahasa dan Budaya dan pada tahun 1960 berubah nama menjadi Direktorat Bahasa dan Kesusastraan Cabang Singaraja. Tahun 1969 berubah lagi menjadi Lembaga Bahasa Nasional Cabang Singaraja dan pada tahun 1975 menjadi Balai Penelitian Bahasa. Tahun 1987 pindah ke Denpasar dan tahun 1999 berubah nama menjadi Balai bahasa Denpasar. Pada tahun 2012 Balai Bahasa Denpasar berganti nama menjadi Balai Bahasa Provinsi Bali.

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Bali adalah di bidang penelitian, pengembangan, penyuluhan, kerja sama dan bidang dokumentasi, informasi dan publikasi. Di bidang penelitian Balai Bahasa Provinsi Bali melakukan penelitian berbagai aspek karya sastra, sosialogi sastra, sejarah sastra, berbagai aspek bahasa Indonesia dan bahasa daerah, pemakaian bahasa dan kemahiran berbahasa.

Di bidang pengembangan Balai Bahasa Provinsi Bali mengembangkan kamus, tata bahasa, ejaan dan ensiklopedi sastra dan bahasa. Di bidang penyuluhan Balai Bahasa Provinsi Bali melaksanakan kegiatan penyuluhan, pelatihan misalnya pelatihan penulisan ilmiah bagi para guru, bengkel sastra bagi siswa dan mahasiswa, bengkel bahasa, berbagai lomba, UKBI dan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

Dalam melaksanakan berbagai kegiatan tersebut Balai Bahasa Provinsi Bali bekerja sama dengan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi profesi, sanggar dan kelompok sastra. Balai Bahasa Provinsi Bali juga mengembangkan perpustakaan, penerbitan, pangkalan data dan jaringan.
Duta Bahasa
Saat ini, yang mungkin belum diketahui secara luas oleh masyarakat Bali adalah kegiatan pemilihan Duta Bahasa dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menurut I Wayan Sudiartha pemilihan duta bahasa ini sudah diselenggarakan sejak tahun 2006. Seleksi pemilihan Duta Bahasa dilakukan cukup ketat mulai dari kabupaten/kota, kemudian di tingkat provinsi dan kemudian di tingkat nasional dan merupakan kegiatan dari Badan bahasa Kemendikbud.

Duta bahasa adalah representasi pemuda yang memiliki kepekaan terhadap bahasa Indonesia.Menjadi duta bahasa berarti harus peduli akan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Duta bahasa turut berperan dalam upaya membina, melindungi, dan mengembangkan bahasa Indonesia dan membantu badan atau balai bahasa dalam upaya mengampanyekan penting dan luhurnya bahasa Indonesia.

Yang membanggakan, pada pemilihan Duta Bahasa tingkat nasional tahun 2012 di Jakarta duta dari Bali berhasil menyisihkan 24 pasangan peserta dari 24 provinsi dan meraih juara pertama. Pasangan tersebut adalah Wahyu Adi Raditya dan Kadek Ridoi Rahayu. ”Saya berharap agar pemilihan Duta Bahasa ini gaungnya sama dengan pemilihan Duta Pariwisata atau pemilihan Teruna-Teruni Bali,” ujar I Wayan Sudiartha.

Untuk tahun 2013 ini seleksi pemilihan Duta Bahasa akan dilaksanakan September 2013 mendatang untuk tingkat provinsi dan Oktober untuk tingkat nasional. Para siswa SMA/SMK dan mahasiswa diharapkan mengambil bagian dalam seleksi tingkat provinsi untuk dipilih satu pasang sebagai Duta Bali di ajang pemilihan Duta Bahasa tingkat nasional.  gus