Cerpen

First Sight First Love 2
Thursday, February 27th, 2014
ayty

Kelvin Andrea: “Aku bukanlah seorang pecinta, namun, begitulah aku setelah bertemu denganmu,”
Garis oval dan horizontal itu terlihat tidak begitu baik di mataku. Teknik pensil ini serasa begitu sulit. Hufhhh..aku mencoba untuk berkonsentrasi, namun, sepotong adegan menyakitkan itu kembali mengusik benakku. Aku memutuskan untuk menenangkan diri. Aku menuju jendela kamarku. Hujan lebat sedang turun. Perempuan itu sangat menyukai hujan.
Bayangan wajahnya mengelebat di benakku.
Sial, lagi-lagi, perempuan ini.
Aku mencintainya, dari awal pertemuan kami. Saat itu aku baru tiba di sekolah seni ini. Ayahku, salah satu pemilik sekolah ini mengirimku ke sini dengan alasan developing skill. Entah apa maunya. Padahal sudah jelas karya lukisku berhasil menggemparkan dunia. Berkat hal itu, aku berhasil diterima di salah satu sekolah seni Singapura dengan beasiswa penuh.
Sekarang, aku harus melepas kesempa­tanku dan terjebak di sekolah seni kacangan ini. Arrrgghh.… aku terpaksa menghela nafas panjang ketika memasuki gerbang sekolah itu untuk kali pertama. Aku segera turun ketika bodyguard-ku membukakan pintu.
“Tolong bawakan peralatan lukisku ke studio sekarang ,” pintaku kepada supir pribadiku.
“Baik Tuan Muda, “ jawab lelaki paruh baya itu sambil membungkuk tanda hormat.
Aku berjalan menuju studio lukis yang sudah dipersiapkan ayah untukku. Sampai tak sengaja mataku terpekur pada sesosok mungil seorang gadis yang ternyata sedari tadi memperhatikanku. Saat itu, perasaan aneh menjalar dari ujung kaki sampai ubun-ubunku. Jantungku tiba-tiba berdetak sangat cepat. Sejenak aku merasa waktu berhenti berjalan.
Lusi Elyata. Pemilik nama sederhana itu akhirnya membuatku takluk. Entah dari sisi sebelah mana. Satu yang aku rasakan, ada sebuah bagian yang dari dalam dirinya yang mampu menghipnotisku. Entah itu suaranya, senyumnya, keceriaannya, atau bahkan tariannya. Entahlah.
Dengan senyumnya, ia selalu mampu membuatku semangat. Serasa mampu membuatku selalu ikut tersenyum dan menikmati tiap detik hidupku. Sayangnya, semua itu tak berlangsung lama. Aku merasa sikapnya berubah. Dia bukan Lusi yang kukenal dulu. Bukan lagi seseorang yang menari hanya untukku. Dia berubah menjadi seorang gadis manja, dan protektif.
“Baiklah, aku…..mengerti,” jawabnya dengan mata sayu ketika aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya, malam itu.
Akupun dengan angkuh dan percaya diri pergi meninggalkan dia masih terduduk di sebelah studio seni tari, tempat yang biasa ia gunakan untuk latihan menari. Malam itu, malam di mana pertama kali aku merasa kesepian, tanpa tawanya, tanpa semangatnya, tanpa cintanya.
Aku menari, hanya untukmu, Kelvin Andrea. Kata-kata itu, tiba-tiba mengiang dalam lamunanku. Kata-kata yang tak pernah aku percaya, walau aku tidak bisa memungkiri bahwa matanya berkata jujur saat itu.
Tidak. Aku merindukannya. Aku merindukan keceriaannya, senyumnya yang bisa membuat duniaku berwarna. Aku merindukan kebawelannya dan protektifnya yang bisa membuatku hati-hati dalam melangkah dan membuat setiap keputusan dalam hidup dan karirku. Aku merindukan bagaimana caranya memotivasiku dengan kata-kata yang tak pernah bisa kupahami seutuhnya. Tuhan, yang paling penting aku merindukan tariannya, yang bisa membuatku merasa bahwa akulah satu-satunya pria yang ia cintai di dunia ini.
Aku bergegas menuju garasi tempat mobilku disimpan. Hari ini aku mengemudi sendiri. Tujuanku hanya satu, studio tari, tempat di mana Lusi berada saat ini. Aku harus cepat, sebelum semuanya terlambat…. Sambil memencet nomor ponsel Lusi, aku terus memacu mobil ini. Hujan mengiringi deru mobil yang kukendarai. Sampai cahaya putih menyilaukan tiba-tiba mengaburkan pandanganku… Lusi….aku mencintaimu…
***
Kriingg…kriingg….
Lusi menghentikan gerakannya. Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
“Ya, halo, dengan siapa ini ? Ya, benar sekali, saya sendiri,ada yang bisa saya bantu ? ” Jawab Lusi.
“Maaf, apa Anda adalah kerabat dari Kelvin Andrea ? Karena nomor ponsel terakhir yang dihubunginya adalah nomor ini,” suara serak seorang laki-laki membalas di seberang sana.
“ Ohh, iya saya salah satu temannya…ada yang bisa saya bantu ? Apa ini mengenai Kelvin ?”
“Maaf, Mbak, ini dari pihak kepolisian, teman Anda, Kelvin Andrea mengalami kecelakaan serius dan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, teman Anda ini meninggal di tempat. Bisakah Anda menginformasikan kepada sanak keluarga Kelvin Andrea ?”  v