CERPEN : Cintaku Hanya dalam Kanvas

oleh : Komang Ayu Sri Widyasnthi (SMA N 2 Amplapura)
Thursday, March 7th, 2013
lukisan
Goresan itu semakin indah. Goresan itu kian bermakna. Kanvas sederhana itu bermetamorfosis menjadi sebuah karya lukisan yang luar biasa oleh tangan mungilnya. Inilah hobby yang membawa rasa syukur dalam dirinya. Diana sosok gadis ceria. Tetapi tubuhnya yang tak berdaya hanya bergerak dibantu oleh kursi roda itu. Meski telah lumpuh dan bisu sejak lahir, ia selalu mengerti bagaimana memperindah dunia ini dalam kehidupannya di balik segala kekurangannya. Meski dalam keadaannya seperti ini, Luh Sekar tidak pernah mengeluh atau menopang diri sepenuhnya pada sang nenek, Nik Sari. Nik Sari yang sudah tua dan renta, tubuhnya yang kering kerontak tak mampu Diana berikan bebannya lagi, selain ayahnya yang juga telah lumpuh ketika perusahaan tekstilnya bangkrut.

Malam itu Sekar tak mampu membendung air matanya. Kasihnya pada sosok seorang ibu sangat ia rindukan. Air matanya menetes kian deras, tanpa sadar ia melanggar janjinya untuk tidak akan pernah menangis lagi. Sejak saat di mana ayahnya bangkrut dan ibunya pergi begitu saja. Hanya kasih sayang dari seorang neneknya lah ia dapatkan. Foto besar yang terpajang di sebelah mejanya berusaha membangkitkan ingatannya pada kesakitan hati yang teramat dalam.
“Mama!” Teriaknya dalam hati.

“Kurasa mama tak akan pernah kukenal lagi dalam hati.” Sambungnya.
Malam ini Sekar mengharapkan esok akan lebih baik dari hari ini, hari ini adalah yang kabut dan kusam. Esok ia memimpikan ia mampu menemukan kebahagiaan yang benar benar mampu membahagiakan hati dan orang yang ia sayangi.

“Luh, makan dulu. Ini nenek bawakan,” kata neneknya.
“Iya, Nek. Terima kasih banyak,” Sekar menjawab neneknya dengan suara yang tidak jelas dan  mencium tangan neneknya dan memeluknya.

Pagi yang cerah dan ceria akan ia sambut dengan bahagia dan terlupa dengan hal-hal kabut seperti kemarin.
“Mawar? Dari siapa ini?” Sekar membaca ucapan yang ada di dekat bunga mawar merah yang sangat cantik.
“Happy Valentine Day, Sekar. Kurasa kini aku tau apa yang harus ku katakan. Aku mencintaimu, sungguh. Sejak pertama aku sudah mencintaimu. From: Dewa Ari.” Bacanya dalam hati.

Sekar sangat kaget. Tidak mungkin cewek yang cacat sepertinya dicintai oleh seorang cowok yang pintar, ganteng, dan kaya seperti Dewa Ari. Inilah namanya cinta, mungkin cinta datang tak tau kapan waktunya dan kepada siapa rasa itu tertuju. Di balik keraguan itu, Sekar juga telah lama memendam perasaan itu juga. Namun sekar tahu, jika ia menerima pernyataaan cinta itu, keluarga Dewa Ari akan marah besar kepada keluarganya. Dewa Ari mempunyai nama yang berisi embel-embel, dan tentunya ia dari keluarga terpandang dan memiliki fisik yang sempurna, sedangkan sekar, cewek cacat yang masih sangat susah memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ini sungguh seperti langit dan bumi. Sekar tetap tidak mampu mengambil keputusan itu. Ini akan membawa petaka dalam keluarga dan kehidupannya lagi.

Pergolakan dalam jiwanya memuncak. Curahan hatinya hanya dapat ia tumpahkan melalui kanvas, kuas dan cat-cat air yang ada di dekatnya. Hanya inilah teman sejatinya. Ini lukisan yang sangat menyentuh hati. Tersirat kesedihan, kekosongan hati, tangisan, keluarga, dan lainnya. Ini curahannya. Tangisannya meluap dalam kanvas. Mungkin penyakitnya juga kian mengerogoti. Sehingga ia tak mampu menyadari, seharusnya ia menyatakan perasaannya secepat mungkin. Tapi terlambat. Hanya lukisan itu yang mampu mengenangnya lagi, sejak malam itu hingga sekarang.