Drs. Ida Bagus Gede Wiyana

Taki-Takining Sewaka Guna Widya
Thursday, February 27th, 2014
Drs. Ida Bagus Gede Wiyana
Dalam pandangannya, ilmu dan pengetahuan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Setiap ilmu (sains) adalah pengetahuan (knowledge), tapi tidak semua pengetahuan adalah ilmu. Jadi Ilmu adalah pengetahuan yang disusun secara sistematis sedangkan pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil upaya manusia hingga menjadi tahu. “Pengetahuan itu merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk tahu,” ujarnya saat bincang-bincang dengan IMOB Educare.

Untuk berpengetahuan, menurut Ketua Yayasan Dwijendra ini, tidak hanya dengan membaca buku atau melihat tapi harus bisa merasakan sesuatu dengan semua indera. Manusia bisa merasakan rasa makanan, mencium bau, mendengarkan sesuatu dan merasakan sentuhan merupakan pengetahuan yang bisa dialami. Sedangkan ilmu merupakan pengetahuan yang tidak bisa didapat dengan cepat, harus diperoleh dari penyelesaian masalah, hipotesis, penelitian, dari catatan sebelumnya. Oleh karena itu, jika sudah memiliki ilmu maka harus dan dilaksanakan untuk hal-hal yang baik.

Pria yang murah senyum ini mengatakan hidup untuk pengetahuan, melalui pencerahan dan pendakian sebagai usaha untuk mencapai pengetahuan. Dengan pengetahuan manusia mampu mencapai Satyam Siwam Sundaram. Satyam artinya kebenaran yang diwujudkan dengan perbuatan, perkataan dan pikiran yang benar. Dengan begitu maka akan menemukan Siwam yang berarti kebersihan, kesucian, dan kemuliaan. Sundaram berarti keindahan, kecantikan, dan keharmonisan yang diwujudkan dengan berkreativitas sehingga menghasilkan sesuatu yang berguna. Inilah yang dilakukan pria yang akrab disapa Pak Wiyana ini dalam usaha mempelajari ilmu pengetahuan saat bersekolah dulu. Lalu untuk apakah itu semua? Katanya, tentunya untuk kebaikan bersama termasuk di dalam diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Menengok ke masa silam saat berjuang meraih cita-cita melalui pendidikan, putra kedua dari pasangan Ida Bagus Alit Sudharma dan Ida Ayu Raka Sutiti ini mengakui telah menjalani masa-masa menuntut ilmu dengan filosofi tersebut. Nama Ida Bagus Gede Wiyana memang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, bahkan masyarakat lintas etnis, agama dan budaya.

Selain aktif di FKUB Provinsi Bali, pria kelahiran Denpasar 1 Agustus 1951 ini juga adalah Ketua Yayasan Dwijendra Pusat. Yayasan ini mengelola sekolah-sekolah dalam berbagai tingkat yakni mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama(SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Universitas. Semua jenjang sekolah dan universitas menyandang nama Dwijendra. Setelah malang melintang mengelola sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Ida Bagus Gede Wiyana mengaku kini menikmati masa purna bhakti alias pensiun.

Dan setelah pensiun dari tugas mengelola lembaga pendidikan, apakah ia terus berpangku tangan? Ternyata tidak, karena sekarang ia menduduki posisi Direktur CV. Graha Cipta, perusahaan yang bergerak dalam bidang konsultan teknik arsitektur. Ia juga menempati posisi Derektur PT. Upada Sastra yang bergerak dalam penerbitan buku. Yang pasti dalam perjalanan hidup mengarungi waktu Pak Wiyana telah terjun dalam berbagai kegiatan organisasi bahkan sejak SMA dulu.
Tanpa bermaksud bernostalgia, ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Provinsi Bali itu mengungkapkan saat sekolah dulu ia bagaikan menyusuri jalan yang lurus, selalu berjalan lurus tanpa pernah ketinggalan kelas. Lulus SR No. 5 Denpasar tahun 1962 kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Denpasar dan lulus tahun 1965. Selanjutnya melanjutkan pendidikan ke SMA N 1 Denpasar dan lulus tahun 1958. Di masa SMA inilah Pak Wiyana mulai bersentuhan dengan organisasi yang dimulai dari OSIS.

Selepas SMA N 1 Denpasar, Pak Wiyana pun memutuskan merantau ke Jawa Timur tepatnya di Surabaya. Di kota ini ia menyelesaikan studi di Akademi Perhotelan dan Pariwisata selama 3 tahun. Belajar sambil bekerja itulah yang dilakukan Pak Wiyana karena sambil kuliah ia juga bekerja di Facto Travel. Jiwa organisasinya kembali membara sehingga setelah menjadi mahasiswa ia juga aktif di organisasi kemahasiswaan. Setelah lulus tahun 1971 Pak Wiyana melanjutkan studi ke S1 Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Surabaya selama lima tahun dan lulus tahun 1984.

Selama menjalani masa studi, cucu dari Ida Bagus Wayan Gede pendiri Yayasan Dwijendra itu mengaku mendapat dua jenis pembelajaran dari ayah dan kakeknya. Kakeknya yang pendiri Yayasan Dwijendra sekaligus anggota DPR GR/MPRS selalu mengajarkan tentang agama dan spiritual, sedangkan ayahnya mengajarkan tentang kemasyarakatan dan teknisi otomotif. Dorongan semangat dari kakek dan ayahnya membuat Pak Wiyana dipercaya sebagai Anggota Kepolisian Khusus (Kehormatan) dari Kepolisian RI Daerah Bali itu bisa menjadi sosok yang mumpuni dalam karir dan organisasi kemasyarakatan.

Baginya, pengetahuan yang dicapai melalui pendidikan dan pengalaman itu adalah demi kepentingan bersama, untuk diri sendiri sebagai revitalisasi, untuk keluar­ga, dan untuk masyarakat sebagai bentuk pengabdian. Hal ini disampaikannya karena manusia hidup dalam Buana Agung dan Buana Alit. “Hidup di te­ngah-tengah masyarakat dan lingkungan alam maka harus ada pengabdian. Disinilah pengetahuan diaplikasikan dalam hubungan masyarakat dan alam lingkungan sekitar,” ujarnya. v srl