Dunia Pendidikan di Tahun Kuda

Akan Berakhirkah Kekerasan Antar Siswa
Thursday, February 27th, 2014
kekerasn
kekerasn
kekerasn


Aksi tawuran antar pelajar sepanjang tahun 2013 marak terjadi di kota-kota besar di seluruh Indonesia terutama di Ibukota Jakarta. Masyarakat Indonesia disuguhkan dengan berita televisi tentang aksi para siswa yang melakukan tawuran di jalanan dengan menggunakan senjata tajam, menyiram dengan air keras dan melakukan aksi membajak bus yang penuh penumpang. Para siswa pelaku tawuran bagaikan pahlawan meskipun sesungguhnya apa yang dilakukannya sangat memalukan dan meresahkan serta merendahkan harkat dan martabatnya sebagai seorang siswa.

Aksi tawuran yang terjadi sepanjang tahun 2013 iru bukan saja mendatangkan kerugian secara material tetapi juga secara moral. Bahkan sejumlah aksi tawuran antar pelajar itu harus berakhir dengan pertumpahan darah. Puluhan nyawa meregang sia-sia, mati di jalanan dalam usia masih sangat belia atau usia produktif. Berdasarkan data dari Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA) sebanyak 20 pelajar tewas sia-sia dalam tawuran antar pelajar di Indonesia sepanjang tahun 2013 lalu. Data Komnas PA menyebutkan sepanjang tahun 2013 telah terjadi 229 aksi tawuran antar pelajar. Ini baru data yang diketahui atau yang bisa direkam oleh Komnas PA.

Selain 20 pelajar yang meregang nyawa, juga ada ratusan pelajar yang luka baik luka parah maupun luka ringan, bahkan menderita cacat seumur hidup gara-gara tawuran. Bukan hanya pelajar yang menjadi korban, tetapi juga masyarakat biasa yang kebetulan berada di tempat tawuran menjadi sasaran, bukan hanya dengan benda tajam tetapi juga dengan siraman air keras.

Menurut Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait,kasus tawuran sepanjang 2013 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2012 yakni 128 kasus. Peningkatan kasus tawuran dari 128 menjadi 229 pada tahun 2013 harus dipandang sebagai indikasi gagalnya sistem perlindungan terhadap anak Indonesia. Arist melihat ada pembiaran-pembiaran yang menyebabkan anak-anak terus menjadi korban maupun pelaku tawuran.

Perilaku yang dilakukan oleh para pelajar sudah diluar batas karena dalam tawuran mereka menjadi pembunuh atau melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Menurut Arist selama ini penyelesaian kasus tawuran adalah dengan menghukum pelakunya dan sangat jarang melakukan penelusuran untuk mengetahui penyebab mengapa para pelajar berlaku bringas.

Ditegaskan Arist, apa yang dilakukan oleh pelajar dalam tawuran itu juga merupakan daur ulang dari apa yang dilihatnya. Tindakan kekerasan yang dlakukan oleh orang dewasa, tayangan televisi yang tidak mendidik, tersebarnya permainan game yang tidak humanis berakibat anak-anak mudah menirunya. Arist mengharapkan, bukan penyelesaian masalah tawuran yang lebih diutamakan tetapi perlu dicari penyebab mengapa para pelajar bisa nekat melakukan kekerasan.
Sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia juga memberikan andil kepada para siswa untuk melakukan tindakan-tindakan yang tak pantas. Pendidikan di Indonesia cenderung lebih fokus pada mengejar prestasi atau kualitas kelulusan sehingga pendidikan karakter diabaikan. Pada hal tujuan pendidikan adalah menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas baik dari aspek intelektualnya maupun dari aspek moralnya. v gus