Hari Kebangkitan Nasional

Mengapa Diperingati Tanggal 20 Mei?
Tuesday, June 17th, 2014
Bangkitkan nasionalisme demi kesatuan NKRI
Setelah peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, bangsa Indonesia juga memperingati Hari kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei. Mengapa setiap tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional?

Para siswa di Indonesia termasuk di Bali tentu saja sudah tahu jawabannya. Soalnya peringatan Hari Kebangkitan Nasional adalah bagian dari sejarah yang juga dipelajari atau masuk dalam kurikulum.
Sejarah kebangkitan nasional merupakan masa bangkitnya semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Nasionalisme Indonesia itu tidak pernah muncul selama 350 tahun masa penjajahan Belanda. Maka kebangkitan nasional ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 dan ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Pengaruh Boedi Oetomo benar-benar dasyat karena setelah itu berdiri Indische Partij tahun 1912,Sarekat Dagang Islam di Solo tahun 1912 oleh Haji Samanhudi dan KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta. Selain itu Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putera di Magelang Jawa Tengah.
Boedi Oetomo bermula dari sekelompok mahasiswa Stovia Jakarta yang dikoordinir R.Soetomo mendirikan perhimpunan di kalangan para pelajar guna menambah pesatnya usaha mengejar ketertinggalan bangsa. Langkah pertama yang dilakukan Soetomo dan kawan-kawannya adalah mengirimkan surat untuk mencari hubungan dengan murid-murid di kota-kota lain di luar Jakarta seperti Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Magelang.

Pada Sabtu 20 Mei 1908 pukul 09.00 pagi Soetomo dan kawan-kawannya antara lain M. Soeradji, M. Muhammad Saleh, M. Soewarno, M. Goenawan, Soewarno, R.M. Goembrek, dan R. Angka berkumpul dalam ruang kuliah anatomi Stovia Jakarta. Mereka sepakat memilih Boedi Oetomo sebagai nama perkumpulan yang mereka dirikan. Boedi artinya perangai atau tabiat sedangkan Oetomo berarti baik atau luhur. Jadi Boedi Oetomo adalah perkumpulan yang ingin mencapai sesuatu berdasarkan atas keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat dan kemahirannya.
Tanggal 3-5 Oktober 1908 diselenggarakan Kongres Pertama Boedi Oetomo di Kweekschool atau Sekolah Guru Atas Yogyakarta yang saat ini adalah SMAN 11 Yogyakarta. Kongres ini menghadirkan para pembicara antara lain R. Soetomo dari STOVIA Weltevreden, R. Saroso dari Kweekschool Yogyakarta, R. Kamargo dari Hoofd der School Magelang, Dr. MM. Mangoenhoesodo dari Surakarta dan M. Goenawan Mangoenkoesoemo.

Setelah berlangsung selama tiga hari, kongres yang dipimpin oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo mengesahkan Anggaran Dasar Boedi Oetomo yang pada pokoknya menetapkan tujuan Boedi Oetomo adalah kemajuan yang selaras atau harmonis buat bangsa dan Negara, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, kebudayaan, kesenian dan ilmu pengetahuan.

Beberapa prestasi yang diraih oleh Boedi Oetomo diantaranya penerbitan majalah Guru Desa, perubahan pelajaraan
Bahasa Belanda di Sekolah Dasar yang semula hanya diajarkan di kelas tiga ke atas berubah menjadi mulai kelas satu, serta mendirikan surat kabar resmi Boedi Oetomo berbahasa Belanda, Melayu, dan Jawa.
Boedi Oetomo telah memberikan teladan dengan berdiri di barisan terdepan membawa panji-panji kesadaran, menggugah semangat persatuan, adalah suatu kenyataan yang tidak boleh dikesampingkan. Kini setelah 106 tahun, perlu direfleksikan bagaimana kadar nasionalisme kita terhadap NKRI. Mungkin kita perlu berteriak sekeras-kerasnya, aku Indonesia, NKRI harga mati.