I Gusti Agung Dewi Widyastuti

Antara Penulis Beken dan Public Speaker
Tuesday, October 2nd, 2012

 

widyastuti
Menulis adalah mengingat, merenung dan bersuara sedangkan Public Speaker adalah pembicara yang mempunyai reputasi kepandaian berbicara dalam jangka waktu lama. Tak banyak orang bercita-cita menjadi penulis dan public speaker. Tapi I Gusti Agung Dewi Widyastuti adalah satu dari sedikit remaja yang memiliki cita-cita ini.

 

Remaja berparas manis kelahiran di Denpasar 17 Juli 1995 dari pasangan I Gusti Agung Oka Wiryana dan Dra. AA Lies Wedharini ini kini tercatat sebagai siswi SMA Negeri 8 Denpasar. Alumni SMP Negeri 10 Denpasar ini termasuk siswi berprestasi baik semasa di SMP maupun sekarang di SMA. Sejumlah prestasi akademik dan non akademik telah digaetnya. Antara lain Juara II naskah pidato SMA/SMK Denpasar tahun 2012, Juara I Teruni Jegeg/Teruna Bagus SMAN 8 tahun 2012, Juara I Kelas XII IPA 4. Ia juga menyabet predikat Juara II parade Tari Bali tahun 2008.

Ditanya soal kesannya sebagai siswi SMAN 8 Denpasar, remaja yang akrab disapa Gek Dewi ini menuturkan, banyak peristiwa yang dialaminya di SMAN 8 Denpasar dan itu sulit untuk dilupakan. Semua pengalaman itu telah membentuk pribadinya untuk semakin matang dan dewasa dalam menggapai masa depan. Pengalaman berorganisasi di kelas dan pengalaman dalam berinteraksi dengan teman-teman melalui persahabatan tak akan pernah terlupakan dan akan dibawa sampai tamat nanti.

Pengalaman menyenangkan juga dirasakan adalah hubungan antara siswa-siswi dengan para guru yang terjalin bagaikan sahabat atau teman. Para guru dengan beragam karakter telah mampu mendidik para siswa dan mengajar dengan sepenuh hati meskipun dengan cara yang berbeda-beda. Memang ada guru yang tegas, lembut dan semuanya terasa fun-fun saja.

Gek Dewi rupanya sangat sadar bahwa ia kini duduk di Kelas XII. Itu berarti Ujian Nasional semakin di depan mata, bahkan tinggal beberapa bulan lagi. Apa pendapatnya tentang Ujian Nasional? Gek Dewi mengatakan Ujian Nasional penting bagi siswa, tapi ia sangat berharap agar sekolah tidak hanya mengacu pada pencapaian nilai ujian nasional namun agar tidak melupakan pendidikan karakter. Bagi Gek Dewi pendidikan karakter mengiringi siswa-siswi sampai tamat dan sepanjang hayat menjalani kehidupan.

Di mata Gek Dewi, kaum remaja masa kini kian dirundung permasalahan yang kompleks mulai dari makin merosotnya minat baca sampai krisis moral yang diakibatkan oleh berbagai faktor lingkungan maupun pribadinya masing-masing. Kaum remaja kini sangat diharapkan untuk terus menggali kemampuan berpikir kritis dalam berbagai aspek kehidupan. Itu yang nantinya dapat mengasah daya nalar para siswa-siswi.

Gek Dewi juga tak menyangsikan betapa kuatnya pengaruh budaya barat dalam kehidupan kaum remaja masa kini. Karena itu kaum remaja perlu pendampingan terutama dari keluarga. Sebab tanpa pendampingan bisa berakibat remaja tidak bisa memfiltrasi mana budaya yang menguntungkan dan mana yang justru merusak moral. Contohnya banyak remaja menjadi korban mode, padahal mode tersebut belum tentu cocok namun tetap saja digunakan dan cenderung ikut-ikutan. Bagi Gek Dewi keluarga sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter kaum remaja demikian pula dalam berteman harus jeli memilih apakah teman tersebut membawa pengaruh baik.

Soal hobi, Gek Dewi mengaku sangat menyukai dunia tulis menulis, menyanyi dan olahraga basket. Jadi tak heran pula jika ia juga bercita-cita menjadi penulis beken. Hobinya ini muncul karena ia sendiri menyukai pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa inggris, bahkan menjadi pelajaran favorit. Gek Dewi juga senang berorganisasi dan sejak kelas IX selalu didaulat teman-teman menjadi ketua kelas. Menurutnya dengan berorganisasi kecil bisa belajar untuk mampu memimpin organisasi besar di masa depan.

Tentang sumpah pemuda, Gek Dewi berpendapat, sumpah pemuda mengingatkan kita akan semangat para pemuda dulu. Kaum muda masa kini harus bisa mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif. Kaum muda masa kini seharusnya tak menyia-nyiakan perjuangan kaum muda tempo dulu.

Semua bait dalam sumpah pemuda mempunyai makna identitas bangsa yang penting. Menurut Gek Dewi melihat banyaknya konflik beraroma suku, agama, ras dan antar golongan saat ini, kita harus kembali mengingat sumpah pemuda. Ingatlah bahwa kita bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu, Indonesia. Janganlah saling membenci, sebab kita adalah satu Indonesia. *ana&gus