I Gusti Ayu Shintya Astari

Guru Hingga Duta Besar
Saturday, November 3rd, 2012
shintya
Hidup harus punya cita-cita dan bukan hal tabu seseorang punya cita-cita lebih dari satu. Ini juga yang dimiliki oleh remaja berparas ayu I Gusti Ayu Shintya Astari atau yang akrab disapa Shintya ini. Ia bercita-cita di masa depannya bisa berprofesi sebagai guru, pengacara, psikolog, jaksa atau duta besar. Tergantung garis tangan, mana nanti yang akhirnya bisa tergapai.

Gadis kelahiran Denpasar 10 Maret 1995 ini mengaku tertarik dengan profesi yang dipilihnya sebagai cita-cita. Baginya profesi guru itu sangat mulia dan penuh pengabdian serta melayani sesama. Demikian juga profesi sebagai pengacara sangat mulia karena bisa membantu sesama menyelesaikan masalah hukum yang dihadapi. Sedangkan profesi psikolog juga adalah profesi mulia karena bisa membantu sesama keluar dari masalah hidup yang dihadapi terutama terkait dengan kejiwaan. Dan kalau ada kesempatan Shintya pingin jadi jaksa atau duta besar.

Buah cinta pasangan ayah I Gusti Nyoman Sutarja dan ibu Dewa Ayu Alit yang warga Jalan Pudak Gang Pudak Harum No 9 Batubulan ini sekarang tercatat sebagai siswi Kelas XII IPA 3 SMA PGRI 4 Denpasar. Alumni SMP PGRI 2 Denpasar ini tercatat sebagai siswi dengan segudang prestasi baik prestasi akademik maupun non akademik. Di bidang akademik Shintya yang juga ketua KSPAN ini pernah meraih predikat Juara 3 Karya Tulis tentang HIV/AIDS, Olimpiade Fisika Tingkat Kota Denpasar dan Speech tingkat Kota Denpasar. Sedangkan di bidang non akademik ia pernah meraih prestasi Juara 2 Pameran DAKU Stand Terbaik bersama KSPAN 2011, Juara 2 Film Terbaik bersama KSPAN 2011 Pameran DAKU, Favorite Stand terbaik bersama KSPN 2011 Pameran DAKU, Juara Harapan 3 mengomentari iklan radio RPKB 2011 dan juara harapan 3 Lipsync 2012.

Ditanya tentang kesannya sekolah di SMA PGRI 4 Denpasar, Shintya dengan mantap mengatakan dengan bersekolah di SMA PGRI 4 Denpasar ini ia bisa mengenal apa yang disebut dengan kompetisi karena sejak SMA ia mendapat banyak sekali kesempatan dan peluang untuk mengikuti berbagai ajang lomba. ”Yang namanya rasa jatuh dan bangga sudah dapat saya pelajari di SMA ini,” ujarnya sambil mengemban senyum.

Apalagi, akunya, guru-guru di SMA tempatnya sekolah adalah orang-orang yang hebat. Shintya mengaku sangat bangga dengan para gurunya yang tanpa lelah mendampingi dirinya dan teman-teman, bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik dan menjadi teman dikala mengalami kesulitan. ”Para guru di sekolahku mampu membuat aku yang buta akan semangat kompetisi menjadi lebih bersemangat lagi dalam berkompetisi dan tidak malu akan background sekolahku,” tegas Shintya.
Ditanya mengenai hari guru, Shintya berpendapat bahwa  hari guru adalah hari yang sangat special, kita memperingati hari jadinya pahlawan tanpa tanda jasa yang patut kita rayakan dengan suka cita. “Selamat hari guru untuk seluruh guru di Indonesia khususnya Bali. Jadilah guru yang tangguh dan berhati cahaya. Guru yang mampu menyinari dunia dengan pengetahuan dari cahaya hati yang mulia. Terima kasih Bapak Ibu Guru,” ucapnya. Ia menyakini bahwa guru memiliki peranan penting dalam mewujudkan bangsa yang maju dengan menciptakan pemimpin-pemimpin yang berkarakter, tangguh, dan cerdas.

Sebagai remaja Shintya menolak anggapan bahwa kaum remaja masa kini kurang kreatif dan cenderung tidak memiliki cita-cita. Ia bahkan mengacungkan jempol untuk kaum remaja masa kini yang cenderung memiliki semangat dan jiwa muda yang tinggi. ”Ini bisa kita lihat dari banyaknya karya yang diciptakan oleh kawula muda seperti film, band, karya tulis dan lain-lain, jadi aku bangga sebagai remaja Indonesia”, ujarnya.gus&ana