Katakan Perang

Thursday, June 5th, 2014
Para siswa SMA di Bali mengecam kekerasan terhadap anak
Kekerasan terhadap anak-anak usia 0 tahun sampai 17 tahun kini semakin marak terjadi. Penganiayaan dan pembunuhan, kekerasan seksual, eksploitasi anak-anak, perdagangan terhadap anak-anak untuk dipekerjakan sebagai Pekerja Seks Komersial dan kejahatan lainnya kini ada dalam tahap darurat dan mengundang keprihatinan.
Dalam rangka Hari Anak-anak Sedunia 1 Juni IMOB Educare mewawancarai sejumlah siswa SMA untuk menggali pendapat mereka tentang kekerasan terhadap anak-anak tersebut. Menurut siswi SMAN 1 Gianyar Luh Mery Wedayanthi, kasus kekerasan seksual sedang marak di Indonesia setelah munculnya kasus Emon dan JIS. Kondisi ini harus menggugah perhatian semua orang untuk menyelamatkan anak dan masa depannya.”Perlu diterapkan pendidikan seks sejak dini agar bisa meminimalisir kejahatan tersebut. Selain itu, bila perlu hukum mati bagi pelakunya”, ujarnya.

Siswi SMAN 5 Denpasar Ni Nyoman Ayulita Andayani mengatakan kekerasan terhadap anak termasuk kekerasan seksual sudah mengancam masa depan anak-anak. Karena itu harus diterapkan hukuman berat bagi pelakunya. Zahwa Nur Indah Liswandari dari SMA Muhammadyah 1 Denpasar mengatakan dirinya prihatin semakin maraknya kejahatan terhadap anak. Ia menyinalir pelaku-pelakunya kebanyakan putus sekolah atau tidak memiliki pengetahuan dan wawasan.”Jadi perlu dibuka sekolah khusus untuk mendidik para remaja putus sekolah. Pelaku kekerasan pada anak pun harus dihukum seberat mungkin”, ujarnya.

Para siswa SMA di Bali mengecam kekerasan terhadap anak
Menurut I Gst Lanang Kharisma Wibhisono menegaskan anak-anak tidak boleh mendapat perlakuan kekerasan dalam bentuk apapun. Untuk menimbulkan efek jera maka perlu diterapkan hukuman berat bagi pelakunya misalnya dengan melakukan kebiri kimiawi.”Anak-anak sudah sepantasnya disayang, dijaga dan dihargai oleh semua orang, bukannya malah dijadikan korban kekerasan dalam bentuk apapun”, ungkap Siswa SMAN 1 Denpasar ini.
Hal senada juga diungkapkan rekannya Made Nita Sintari. Siswi SMAN 1 Denpasar ini mengatakan kekerasan anak terutama masalah seksualitas seharusnya tidak boleh terjadi. Sebab kekerasan seksual menyebabkan trauma mendalam pada anak dan mengganggu masa depannya. Bahkan bisa memicu sang anak yang pernah menjadi korban menjadi pelaku kekerasan setelah ia dewasa.”Menurut aku hukuman penjara di atas sepuluh tahun bagi pelaku dan denda untuk korbannya”, ungkap siswi Kelas X IPA ini.

Kekerasan anak adalah salah satu masalah besar yang harus diatasi dengan tindakan hukum yang jelas. Demikian pendapat I Wayan Dedi Putra, siswa SMAN 1 Sukawati. Menurutnya hukuman yang pantas bagi pelaku tentu bisa berbagai cara namun sebesar apapun hukumannya jika produk hukumnya tidak jelas, kejahatan akan tetap meningkat.”Remisi hukuman bagi pelaku kejahatan seksual pada anak jangan diberikan”, ungkapnya.
Kekerasan terhadap anak, menurut siswa SMA PGRI 2 Denpasar Ni Nyoman Tri Sukadani, dapat membuat anak itu mengalami gangguan kejiwaan. Kekerasan seksual dapat menyebabkan anak tertekan dan takut. Karena itu pelakunya harus dihukum berat. Sedangkan Ni Putu Sri Pratiwi siswi SMAN 1 Tabanan berpendapat kekerasan pada anak berpengaruh pada mental dari anak itu sendiri.”Hukum pelakunya sesuai dengan UU yang berlaku”, ujar siswi kelas X ini.

Menurut Ana Dwi Nuryanti, pelaku kekerasan terhadap anak rupanya tak mengetahui bagaimana perasaan atau dampak dari kekerasan tersebut terhadap anak. Menurut siswi SMA PGRI 1 ini kekerasan anak membawa dampak buruk bagi perkembangan anak akibat trauma. Tidak ada hukuman yang sangat tepat bagi pelaku kekerasan kecuali sesuai dengan UU yang berlaku.

Siswi SMAN 5 Denpasar Ida Ayu Radi­nia mengatakan sekarang sedang marak dengan berita kekerasan seksual entah memang baru terjadi atau baru terkuak. Menurutnya ini menjadi pelajaran bagi pemerintah dan terutama orang tua untuk lebih mendekatkan diri pada anak-anaknya.”Hukuman yang pantas bagi pelaku ya sesuai UU yang sudah ada ditambah rehabi­litasi bagi pelaku yang mengalami kelainan agar ia tidak mengulangi lagi perbuatannya”, ungkap siswi kelas X ini. Jadi, katakan perang terhadap kejahatan anak.