Langit Senja (2)

Diana Pramesti (SMA Negeri Bali Ma
Monday, March 24th, 2014

sasaa

“Bye, Student. See you tomorrow.”
Ah, aku lega begitu kalimat itu meluncur dengan mulus dari bibir Mr. Edgar. Sungguh kebahagiaan luar biasa ketika aku bisa keluar dari kelas yang penat ini. Segala tentang tetek bengek pelajaran sekolah membuatku muak. Malam sebelumnya menyiapkan materi, belajar—dengan kapasitas otakku yang imut ini rasanya sulit untuk melakukan dalam waktu yang lama. Aku cepat bosan. Tapi demi Tuhan, ketika melihat wajahnya melintas dalam anganku, semangat belajarku langsung berkobar. Gila kan? Itulah aku yang lain.
Tanpa aba-aba, aku langsung melenggang pulang. Mengganti baju. Lalu segera menuntaskan rasa penasaranku ini. Belum genap kakiku berpijak di teras saung, seseorang bahkan telah mendahuluiku disana.
Asing. Dia bukan teman sekolahku. Rambutnya dicukur laki. Bajunya lusuh. Pandangannya lurus ke depan. Badannya tak bergeming sedikitpun. Aku tak yakin dia menyadari kedatanganku atau tidak. Demi rasa penasaranku, kuberanikan diri untuk memulai.
“Permisi…”
“…”
“Hallo permisi…” Tak ada jawaban.
Semoga dia bukan setan. Kucoba sekali lagi.
“Hallo, siapa disana?” sapaku menahan kesal.

“Silakan duduk,” tanpa menoleh melihatku, dia langsung saja mempersilakanku duduk. Tunggu, siapa yang punya saung ini, heh? Dasar manusia robot tak tahu malu. Ah, mengapa aku jadi mengumpat seperti ini. Kenapa tidak langsung dilontarkan?
“Maaf dengan hormat, Anda siapa ya? Saung ini milik saya lho..” ujarku sinis. Aku jadi ingat Senja kecil yang senang berebut boneka dengan kakaknya. Lucu sekali.
“Tanpa menghilangkan rasa hormat saya dengan Nona manis, saya datang kemari dengan alasan yang sangat kuat lho. Anda bahkan telah mengunjungi saung saya tanpa izin saya tuh.. Jadi impas kan?” balasnya tak kalah sinis denganku.
Deg.

Orang ini.. Dialah pemilik saung itu. Perempuan kesepian. Yang konon katanya ingin hidup. Ah semoga saja dia bukan setan atau manusia setengah jadi. Semoga.
“Oh kamu…” Aku—Senja yang memiliki sejuta penasaran terhadap penghuni saung itu, sempurna melongo mengetahui sang empunya bahkan telah menunjukkan diri sebelum kucari.
“Langit Senja.”
“Iya, aku senang dengan view langit senja dari saung ini. Kamu harus mencobanya. Sepertinya saungmu kalah dengan saungku..” jelasku tanpa ditanya.
“Maksudku, itu adalah namaku.” Jawabnya datar, sedatar wajahnya.
“Eh? Kau? Senja juga? Wah, wah, ada apa antara ibumu dan ibuku?” tanyaku tak dapat menyembunyikan kekagetanku.
“Kau bisa memanggilku Langit atau Lala. Tapi kusarankan untuk memanggil Langit.” Jawabnya lagi, mulai sedikit ramah.
“Hmm, maaf lancang, bolehkah aku bertanya sesuatu? Eh, kalau nggak boleh juga tidak masalah.” Tanyaku takut-takut.
“Boleh.” Balasnya tanpa menoleh sedikit pun kehadapanku. Heran.
“Apakah kau seorang junkies, Langit?” Akhirnya, aku sukses melontarkan setengah rasa penasaranku.
“Ya. Menurutmu, apa bedanya seorang junkies dengan seorang tahanan?”
“Entahlah.”

“Aku ini sudah terlepas dari aturan mana pun. Sekali pun kau katakan aku ini hina, aku tak masalah. Asal saja kau tak mengusik hidupku. Aku tak perlu penjara. Aku tak perlu pintar untuk bisa terlihat. Aku tak perlu sukses untuk bisa hebat. Aku tak perlu hebat untuk bersinar. Aku hanya perlu ini.” Ujarnya pelan sambil menunjukkan pil ekstasinya.
Aku merasa tertohok. Hatiku mencelos. Ini seperti ironi. Aku tak pernah mengenal orang ini sebelumnya. Tapi kenapa ia seperti mengetahui hidupku?
“Kau.. kenapa bisa?”
“Haha. Kau kira aku bodoh? Untuk apa kau punya saung jika kau tidak kesepian, heh? Orang kesepian hanya mereka yang tidak berkawan dengan dirinya sendiri. Bukan karena dia tak punya teman. Tapi karena dia mengabaikan dirinya sendiri. Bukan begitu?” tanyanya retoris.
Aku sempurna membeku.
“Kau memang telah berhasil menjadi orang lain. Untuk itu, selamat kuucapkan.” Lanjutnya lagi.
“Tapi sekalipun kau belum cukup berhasil menunjukkan sinarmu. Bukankah begitu?” lagi-lagi dia menusukku tepat sasaran. Telak.

“Kau selalu menunggu datangnya senja. Hingga warna jingganya telah hilang baru kau beranjak. Pernahkah kau memerhatikan bunga matahari? Dia selalu menghadap matahari. Selalu mengarah pada sumber sinar matahari. Itu, seperti bunga matahari di kebun belakang asramamu.” Kulirik Langit menghela nafasnya sejenak. Kemudian melanjutkan lagi. “Kau hanya menjadi bayang-bayang matahari, hingga saat ini,”
Aku tak mengenal perempuan ini. Sungguh. Tapi apapun itu, dia telah menyadarkanku hari ini. Entah dia memerhatikanku dari jauh, atau hanya menebak—seperti yang sering kulakukan, aku tak peduli. Apapun itu hari ini aku berguru pada seorang junkies yang merdeka ini. Hanya dengan menjadi dirinya sendiri. Tak menutup-nutupi, demi kesenangannya. Sederhana sekali.
“Langit, aku tak mengenalmu. Tapi hari ini kau adalah guruku. Sungguh.” Pelupukku memanas. Menggenangi air mata yang siap tumpah.
“Aku bukan siapa-siapa. Aku, aku hanyalah perempuan yang siap menantang langit, kapanpun itu. Aku selalu siap. Asal aku tetap dibiarkan bebas membentang.”
“Senja Jingga. Panggil saja Senja.” Ujarku akhirnya, dengan senyum tulus sambil menjulurkan tangan. Perkenalan yang terlewatkan.
Kali ini giliran Langit yang melongo. 
TAMAT