Marcelinus Halim

Si Punguk Itu Kini Telah Mendapatkan Bulannya
Monday, June 27th, 2011

 

marcelinus halim
“Yang paling memperdulikan masa depan Anda dan orang yang Anda cintai adalah diri sendiri, lupakan kritikan-kritikan orang yang tidak perduli dengan masa depan Anda.” Sebuah prinsip hidup yang tidak semua orang mampu memilikinya.

 

Terlahir dari sebuah keluarga kecil yang kurang melek financial membuat keluarga seorang bocah kecil saat itu terlilit hutang yang cukup besar akibat keliru dalam berinvestasi. Semua usahapun tutup satu persatu, dari jual beli hasil bumi, angkutan umum,dan toko kelontong yang masih jalan dengan keadaan merayap tidak ada keuntungan sama sekali.

Ia ketika SD bukanlah anak yang tergolong percaya diri. Karena tipe dan sifatnya yang hanya bisa termotivasi dengan pujian-pujian kecil. Tetapi yang ia dapatkan di sekolah justru menjatuhkan harga dirinya ketika ia melakukan sebuah kesalahan. Akibatnya ia selalu mencari alasan untuk tidak masuk sekolah. Ayahnya adalah motivator terbaik untuknya, beliau selalu memotivasi beliau ketika malam hari. Beliau tidak pernah memarahi karena tidak masuk sekolah atau ketika nilainya merah. Namun beliau selalu membesar-besarkan prestasinya yang kala itu sebenarnya kecil. Hal itulah yang membuat bocah kecil ini terdorang untuk memberikan yang terbaik walau tanpa disuruh hingga sukses seperti saat ini. “ Pemimpin harus lambat dalam memberi hukuman dan cepat dalam memberi penghargaan.” Ovid

Suatu hari bocah kecil ini begitu bangga karena ketika itu ia terpilih sebagai salah satu pemain drama akhir sekolah. Berbulan-bulan ia berlatih agar bisa tampil allout, walau ketika itu ia hanya tampil kurang dari 7 menit. Namun hal tersebut tetap membuatnya senang karena bisa tampil di depan semua orang tua murid.

Dan tibalah di sesi akhir ketika guru pembimbingnya memberikan satu dua patah kata pada audience. Ia menyampaikan bahwa semua pelaku-pelaku di drama tadi merupakan anak-anak yang kurang kreatif dan kurang aktif di kelas, sehingga dikumpulkan untuk dibimbing agar lebih percaya diri. Dan salah satunya adalah bocah kecil itu, yakni Marselinus Halim yang sekarang telah berbicara di depan lebih dari 100.000 orang di usia 22 tahun serta telah menginspirasi 4.000.000 distributor Industri pemasaran jaringan di indonesia. Tidak satupun orang terdekat, guru, saudara ataupun teman-teman menyangka Marsel bisa berubah seperti itu, kecuali Ayahnya yang sudah mengimani itu semua sejak kecil.

Lulus SMP Marsel dikirim oleh kedua orang tuanya untuk melanjutkan SMA di pulau Jawa , tepatnya di SMAK St. Agnes Surabaya. Marsel saat itu sempat takut tidak bisa mengikuti pelajaran dan perbedaan budaya dengan flores, apalagi ditambah dengan teman-temannya dari luar pulau yang terbukti banyak yang tidak naik kelas.

Jauh dari orang tua, semuanya harus mandiri, tidak tahu jalan, dialek dan logat yang membuat orang-orang tertawa membuat semakin minder di dalam pergaulan. Dan di saat kelas 2 SMA ia disuruh dan dipaksa oleh Ibunya untuk menghadiri sebuah bisnis. “ Kamu tidak perlu ikut bisnisnya, yang penting curi ilmu pengembangan dirinya yang mahal”. Ujarnya menirukan ucapan ibunya kala itu. Karena di paksa terus akibatnya Marsel akhirnya mulai menghadiri seminar-seminarnya satu persatu. Lebih dari 4 kali hadir baru Marsel mengerti tentang cara kerjanya.

“Suatu saat saya sendiri tidak pernah menyangka sore itu merupan titik balik perubahan hidup marselinus halim. Saya diajak kakak saya untuk menghadiri sebuah seminar sukses yang dihadiri ribuan peserta. 15 menit sebelum penutupan seminar itu, sang pembicara mengajak merenung tentang apa saja kontribusi yang telah saya berikan dalam hidup ini. Disitulah detik-detik saya mengambil keputusan yang betul- betul putus-tus. Saya tidak bisa lagi menhan air mata yang terbendung di mata saya. Saya baru sadar selama ini saya adalah orang yang mementingkan diri sendiri, dan lupa membalas budi baik orang tua.” Ungkapnya sambil menerawang.

Disitulah Marsel menjadi pribadi yang baru menurut teman-teman dekatnya. “apa kamu kurang duit?”, “kamu gak nyesel masa mudamu kamu buang untuk bekerja, ada saatnya nanti kamu bekerja, sekarang hepi-hepi dulu bro..”, “kamu ngayal mau beli BMW”. Dan tidak sedikit juga Ada yang mengatakan Marsel sudah gila.

Ia hanya bisa mengatakan pada waktu itu “ kalau kamu bisa melihat peluang seperti saya melihat, maka kamu pun akan bertindak seperti saya bertindak”. Hanya orang gila yang sukses, Thomas Alva Edison, Wright Brothers, Bruce lee, pernah dikatakan gila, bahkan mereka setalah sukses pun banyak oranng mengeleng-gelngkan kepalanya sambil berkata-kata “ Ck.. ck.. ck.. ck.. gila ya besi bisa terbang kayak burung, gila ya dia menjadi bintang besar,”. Dan teman-temannya pun banyak menggosip di belakangnya “Gila ya... masih umur 19 tahun sudah jadi miliader!”“Hanya terlihat spesial itu tidak cukup, lakukanlah yang orang lain tidak lakukan maka Anda akan dapatkan yang orang lain tidak dapatkan”

Namun kini siapa menyangka seorang laki-laki berumur sekitar 19-23 tahun, di sebuah majalah bisnis nasional. Belasan majalah dan surat kabar yang meliput profilnya. Beberapa majalah menulisnya sebagai “Sang Pemecah Rekor” adalah Marselinus Halim. Dia adalah penghobby mobil BMW, sejak usia 20 tahun ia sudah mengkoleksi mobil BMW seri 3 dan BMW seri Z yang di indonesia masih bisa dihitung pemiliknya. Ia juga merupakan investor muda, yang mulai menginvestasi di bidang property.“There can be miracle , when you believe. Mar&Yaz