Ni Kadek Dwi Cita Gunanti

Aku Menari, Budayaku Lestari
Tuesday, June 17th, 2014
Ni Kadek Dwi Cita Gunanti
Pernahkah kalian memperhatikan orang-orang yang bertepuk tangan riuh dan terpesona melihat sebuah pagelaran? Tentu sering sekali kalian menyaksikannya. Salah satunya pada pagelaran tari tradisional Bali.

Siapapun pasti terpesona melihat gerakan lihai lemah gemulai seorang penari apalagi kalau sang penari itu melakukannya karena panggilan jiwa. Itulah yang dirasakan dara cantik Ni Kadek Dwi Cita Gunanti.Darah seni yang mengalir dalam dirinya membuat ia menari dengan segenap perasaannya, tubuh dan jiwanya. Setiap gerakan memancarkan pesona seni tari yang mampu menghipnotis setiap orang yang melihatnya.

Bagi Ni Kadek Dwi Cita Gunanti menari adalah panggilan jiwanya dan merupakan salah satu cara untuk melestarikan budaya Bali. Remaja yang akrab disapa Cita itu menyatakan dirinya merasa bangga pada budaya tradisional, terutama tari-tarian. Menurut remaja kelahiran 8 November 1997 itu tari tradisional dapat mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Gerakan tari yang rumit namun menyajikan keelokan bagi penikmatnya itu memperlihatkan kehidupan masyarakat yang memiliki jiwa estetika yang tinggi.

Buah hati pasangan I Ketut Gunung dan Ni Komang Sucitrawati itu memang berprestasi di bidang seni tari. Sejak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, ia sudah aktif di Sanggar Tari Urita Shanti Banjar Ambengan. Tak heran jika pada tahun 2003 Cita memperoleh Anugerah Seni Tari Bali dari Kodya Denpasar. Kepiawaiannya menari terbukti dengan banyaknya pagelaran tari yang diikutinya. Selain itu, gadis penari nan cantik itu juga memperoleh gelar juara umum III Radio Spot pada 2013 lalu. Saat ini keseharian Cita disibukkan dengan menjadi Ketua OSIS dan menggagas bangkitnya ekstra Tari Tradisional dan Modern di sekolahnya, SMK Teknologi Nasional Denpasar.

Siswa kelas IX Multimedia itu menyatakan kesannya selama belajar di sekolahnya yang diakui menyenangkan. Ia mengaku banyak mendapat ilmu dan teman menjadi alasannya senang bersekolah. Apalagi guru-guru yang ramah dan mau berbaur dengan siswa-siswi ketika jam istirahat sekolah. Bukan hanya itu, cara mengajar guru-guru sekolahnya juga mampu membuat siswa-siswinya termotivasi untuk belajar.

Saat ditanya pendapatnya tentang Ujian Nasional Cita berpendapat bahwa Ujian Nasional itu pasti akan sangat menegangkan karena ikut menentukan kelulusan seorang peserta didik. Meskipun baginya Ujian Nasional masih setahun lagi namun ia yakin dengan adanya ujian nasional memotivasinya untuk belajar ekstra bukan memaksanya untuk belajar dalam suasana tertekan.

Tentang remaja masa kini, menurut Cita tampaknya sudah ketergantungan dengan teknologi. Bayangkan saja bila jaringan internet mati selama sehari saja pasti remaja tidak akan bisa melakukan apapun.Cita melihat remaja sekarang cenderung lebih senang dengan budaya luar daripada budaya sendiri. Tari tradisional sudah bukan lagi pilihan generasi muda saat ini. Padahal generasi mudalah yang diharapkan melestarikan budaya milik mereka sendiri.

Sebagai siswa Cita yang bertalenta di dunia seni tari itu memiliki cita-cita menjadi seorang model. Nanti setelah menjadi model apakah tetap melestarikan tari Bali? Tak ragu-ragu Cita mengiyakan.” Ya, aku akan memperkenalkan tari Bali kepada semua orang di negeri sendiri maupun ke mancanegara.Aku akan selalu menari dan selalu bangga bisa menari tarian Bali. Dengan begitu harapanku seni tari Bali akan terus lestari,” ungkapnya saat diwawancara IMOB Educare.
Saat ditanya mengenai Hari Pendidikan Nasional, ada satu harapan yang ingin Cita lakukan. Cita berkeinginan untuk berbagi pengetahuan yang ia dapat di sekolahnya khususnya bidang teknologi informasi kepada orang-orang di daerah pedesaan yang belum mengetahuinya. Cita ingin berbagi pengetahuan pada hari pendidikan ini karena baginya, pendidikan juga termasuk berbagi ilmu dan pengalaman.