Opini: Skill Bukan Lagi Barang Imitasi

Tuesday, June 10th, 2014
Skill
Setiap orang pada dasarnya memiliki kemampuan. Kemampuan tersebut terbentuk dari kebiasaan sehari-hari yang pada mulanya berawal dari pengetahuan umum. Ketika ditekuni, kebiasaan itulah yang nantinya akan menjadi keahlian khusus seseorang dan selalu memiliki sisi berbeda dari orang lain. Dalam mengasah keahlian dan kemampuan ini juga didukung oleh potensi dari dalam diri. Keahlian adalah kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu yang sifatnya spesifik namun dinamis. Skill atau keahlian ini juga membutuhkan kurun waktu tertentu untuk mempelajarinya agar mendapat sertifikasi atau pengakuan atas keahlian yang dimilikinya. Skill apapun dapat dipelajari namun membutuhkan dedikasi yang kuat untuk mempelajari ilmu tersebut seperti perlunya mental positif, semangat motivasi, waktu dan terkadang uang (Lefrandi, 2012).

Ada berbagai macam keahlian yang dapat dipelajari setiap manusia di bumi. Keahlian tersebut didukung oleh potensi serta minat dari dalam diri. Skill dapat dibedakan menjadi hard skills dan soft skills. Hard skills merupakan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Sementara itu, soft skills adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal (Dennis E. Coates, 2006).

Mengapa seseorang memerlukan skill atau keahlian? Tanpa keahlian, seseorang akan sulit meraih tujuan dan cita-citanya. Skill merupakan nilai plus seseorang dalam bertahan hidup. Memiliki sebuah keahlian akan membantu seseorang untuk meniti kariernya. Skill juga menjadi salah satu tolok ulur dalam penilaian diri oleh orang lain. Kemampuan untuk menunjukkan keahlian yang berbeda akan menciptakan prestasi, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Prestasi oleh dan untuk diri sendiri seperti ikut serta dalam kegiatan perlombaan yang berdasarkan atas skill yang dimiliki sedangkan di lingkungan masyarakat orang tersebut akan mendapat apresiasi tersendiri.

Perbedaan skill setiap orang mencirikan kepribadiannya. Di zaman sekarang terdapat banyak keahlian umum yang menandakan bahwa skill orang-orang rata-rata hampir sama. Hal ini juga terlihat ketika seseorang pembina mulai kesulitan untuk mengetahui keahlian siswa-siswi mereka. Dengan kata lain, orang tersebut belum mengetahui benar potensi yang dimilikinya. Ragu akan potensi diri sendiri cenderung membuat seseorang ingin mempelajari skill yang biasa dilakukan oleh orang lain atau sebayanya yang belum tentu sesuai dengan minat dan bakatnya. Padahal, jika seseorang telah berusaha dan akhirnya mampu mengetahui potensi serta kemampuannya, tidak akan sulit baginya untuk mendapatkan prestasi atas keahlian yang ia miliki. Karena pada dasarnya orang tersebut hanya perlu mempelajari dan mengasah potensi yang dimilikinya tanpa mencontek atau meniru keahlian orang lain.

Seperti ketika keinginan seorang siswa untuk mengasah kemampuan dan keahliannya pada bidang yang disukainya dan saat itulah siswa tersebut dihadapkan pada situasi yang menariknya untuk mencoba skill yang dimiliki teman sebayanya. Saat teman sebayanya mulai mendesak dan membanding-bandingkan keahlian yang ada, akan menimbulkan keraguan akan potensi dan kemampuan diri sendiri. Hal itu juga yang membuat sebagian besar pelajar mengikuti ekstrakurikuler yang tidak sesuai dengan minat dan bakat. Seiring berjalannya waktu siswa tersebut justru tidak bisa menemukan keahlian dan kemampuan sebenarnya, sehingga pada suatu ketika guru pembimbingnya bertanya mengenai skill yang dimilikinya, siswa tersebut hanya berkata bahwa dia bisa menguasai semua bidang yang dipelajarinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa yang hanya melakukan imitasi pada semua bidang skill tidak akan menemukan keahlian yang sebenarnya. Setiap orang dilahirkan dengan sifat, karakter, serta kemampuan yang berbeda-beda. Maka tidak ada salahnya untuk percaya diri atas apa yang telah dimiliki.

Ketika sebagian besar masyarakat bertanya mengenai perbedaan yang menimbulkan konflik maka jawabannya ialah perbedaan tidak akan menimbulkan konflik sekalipun selalu disalahkan ketika konflik itu terjadi (Dewi, 2013). Karenanya, saat sebuah opini mengenai hidup harmonis di tengah perbedaan dan ini menunjukkan bahwa kita tidak perlu repot memikirkan bagaimana menciptakan keharmonisan di tengah perbedaan itu serta perbedaan itulah yang membuat hidup menjadi harmonis (Dewi, 2013).

Layaknya pelangi di langit yang selalu harmonis ketika bersatu tanpa harus membaur namun justru menciptakan warna-warna yang indah, sama halnya dengan keahlian manusia yang beragam dan ketika disatukan akan membuat skill tersebut saling melengkapi. Maka dari itu, perbedaan akan skill yang dimiliki justru akan membuat seseorang terlihat istimewa dan berbeda daripada harus memiliki skill yang sama tetapi tidak maksimal dan terkesan monoton. Yakinlah pada keahlian dan kemampuan yang dimiliki dan teruslah mengasah skill tersebut sehingga mampu membawa diri kita menjadi pribadi yang sukses atas usaha serta kerja keras sendiri.