Pengamat Lingkungan DR. Kartini

Air di Bali Sudah Tercemar
Monday, March 24th, 2014
hsg

Penelitian yang dilakukan sejak tahun 2008 memperlihatkan sejumlah sungai di Bali telah tercemar dan tak layak lagi untuk dikonsumsi manusia. Bahkan empat danau di Bali pun diketahui telah tercemar oleh limbah rumah tangga maupun limbah pestisida dari sistem pertanian yang konvensional.

Menurut pengamat lingkungan yang juga akademisi dari Universitas Udayana Dr. Kartini, Bali telah mengalami krisis air baik air permukaan maupun air bawah tanah. Pengalihan fungsi lahan serta pembangunan yang tak sesuai dengan Amdal telah menyebabkan Bali mengalami krisis air. Eksploitasi air bawah tanah di Bali terus dilakukan dan hal ini akan berdampak, tanah Bali bisa amblas.

Menurutnya, saat ini saja dampak krisis air sudah mulai dirasakan. Banyak sungai yang kering di musim kemarau padahal dulu tidak. Banyak sungai terutama di perkotaan telah tercemar limbah dan itu akan menjadi racun bagi masyarakat yang bermukim di dekatnya termasuk membiarkan anak-anak menghirup racun itu. Jika air sungai yang tercemar diminum maka akan merusak tubuh dan jika ibu hamil yang mengonsumsi maka bayi yang dilahirkan mengidap sejumlah penyakit termasuk autis, cacat dan lain-lain.

Peneliti manfaat Cacing Tanah bagi kesehatan manusia ini menegaskan, tiga dari empat danau di Bali telah tercemar dengan tingkat pencemarannya sangat tinggi. Danau Buyan, Danau Tamblingan dan Danau Beratan kini sudah tercemar dan ditumbuhi gangga sebagai indikasi bahwa air danau tersebut sudah terkontaminasi. Penyebab tercemarnya danau-danau di Bali adalah perilaku masyarakat yang cenderung berpihak pada pola hidup instan seperti system pertanian dengan menggunakan pupuk anorganik, pembuangan limbah makanan atai tinja ke danau dan perilaku lainnya yang sangat merusak alam.

Dikatakan Kartini, jika masyarakat Bali tidak mengubah perilaku membuang sampah tidak pada tempatnya, tetap dengan pola hidup instan, maka suatu saat Bali akan tenggelam. Karena itu ia meminta agar sekolah-sekolah di Bali benar-benar memberikan pencerdasan kepada para siswanya agar mereka menjadi penjaga lingkungan hidup mulai dari lingkungan rumahnya dan sekolah, yang kemudian ditularkan ke lingkungan yang lebih luas. Sekolah menjadi tempat menempat pencinta lingkungan terutama mendidik mereka agar berperilaku sesuai dengan filosofi Tri Hita Karana, selaras alam, selarasa sesame selaras dengan Tuhan.