Prof I Ketut Widnya, Ph.D

Nahkoda STAHN yang Inovatif
Thursday, March 7th, 2013
profil

Click to read

Memimpin sebuah sekolah tinggi di tengah daerah yang mayoritas bukan Hindu menjadi tantangan sendiri bagi Prof.Drs.I Ketut Widnya,MA,M.Phil,Ph.D. Tetapi apa yang dilakukan oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram yang beroperasi di Kota Mataram Lombok ini membuat sekolah ini diterima sebagai kebutuhan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Membangun kerja sama dan tidak eksklusif, itulah yang dilakukan I Ketut Widnya.

STAHN Gde Pudja Mataram didirikan berdasarkan SK Presiden RI No.27 Tahun 2001. Sekolah tinggi agama Hindu ini diresmikan pada 11 Juli 2001 oleh Menteri Agama waktu itu Said Agil Husin Al Munawar. Dan berdasarkan SK Menteri Agama RI No.204 tanggal 19 April 2002 semua asset eks PGAH Negeri Mataram berupa tanah dan bangunannya ditetapkan menjadi asset STAHN Gde Pudja Mataram.

Kini STAHN Gde Pudja Mataram dinahkodai oleh Prof.Drs. I Ketut Widnya,MA,M.Phil,Ph.D. Dengan sentuhan tangan dinginnya STAHN Gde Pudja Mataram terus melesat maju ke depan dan menjadi satu-satunya lembaga pendidikan agama Hindu di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang menyiapkan calon guru agama Hindu. Untuk diketahui ketersediaan guru agama Hindu di NTB mulai dari TK sampai Sekolah Lanjutan masih sangat kurang.

Memimpin sebuah perguruan tinggi memang diperlukan langkah-langkah yang inovatif. Dan langkah ini pula yang dilakukan oleh I Ketut Widnya. Salah satu langkah inovatif adalah membangun kerja sama dengan sejumlah lembaga luar negeri. Sejak tahun 2009 kerja sama luar negeri itu diwujudkan dengan menyelenggarakan Festival Internasional Seni dan Budaya India dan NTB. Kegiatan tersebut menjadi medium perluasan kerjasama luar negeri, dan sekaligus sosialisasi di dalam negeri. Dari dalam negeri, khususnya di NTB, kegiatan tersebut mendapat sambutan yang luar biasa, sehingga Ketua STAHN Gde Pudja Mataram Prof. I Ketut Widnya, Ph.D memutuskan untuk menjadikan festival tersebut sebagai agenda tahunan.

Di penghujung tahun 2012, tepatnya Desember 2012, festival yang sama kembali digelar di Taman Budaya Mataram, dihadiri Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Prof. IB Gde Yudha Triguna, MS, dan Direktur Indira Gandhi Nasional Centre for the Art Jakarta, Mr. Zaur Zaidi, yang mewakili Kedutaan Besar India di Jakarta.

Sukses menyelenggarakan festival internasional juga mendulang penghargaan dari Duta Besar India untuk Indonesia, Mr Gujril Singh. Kata dia, sejak lama dirinya ingin mengunjungi kampus ini, tetapi karena kesibukan di Jakarta, maka baru kali ini berkesempatan. Kata-kata itu diucapkan Gujril Singh di hadapan civitas akademika STAHN Gde Pudja Mataram, ketika mengunjungi kampus STAHN Gde Pudja Mataram 24 Januari 2013.

Gujril Sing yang didampingi Konjen India di Bali, Mr. Amarjeet Singh Takhi, memberikan penghargaan Beasiswa kepada dosen, pegawai dan mahasiswa STAHN Gde Pudja Mataram, untuk melanjutkan pendidikan ke India tanpa melalui seleksi penerimaan. “Kalau professor Widnya merekomendasikan, saya akan langsung menerima orang tersebut untuk mengikuti pendidikan di India,” demikian janji Gujril Singh di hadapan civitas akademika STAHN Gde Pudja Mataram.
Festival Internasional Seni dan Budaya yang digagas STAHN Gde Pudja Mataram merupakan out put dan sekaligus out come yang berbasis pada misi yang mengintegrasikan agama, budaya, seni dan ilmu pengetahuan. Misi tersebut mengakar dalam Proses Belajar Mengajar sehingga pada klimaksnya akan menghasilkan keluaran (sarjana) yang memiliki kepribadian dan karakter Hindu yang kuat. Cita-cita luhur ini selaras dengan Visi STAHN Gde Pudja Mataram sebagai “Pusat Kajian Hindu yang Unggul dan Berdaya Saing”.

Bagi Prof. I Ketut Widnya visi tersebut dimaknai sebagai visi untuk membangun Hindu Indonesia, yang mengintegrasikan dan saling menghubungkan (inter connected) antara aspek-aspek ajaran Veda, Semi Veda (Vaisnawa dan Saivaisme), anti Veda (Buddhisme), Tantra, dan kebijaksanaan lokal di Indonesia. Sebagai realisasi dari wawasan ini dibentuk program unggulan berupa penerjemahan lontar-lontar Jawa Kuna yang sudah dimulai sejak tahun 2011.

Menurut Prof. Widnya, wawasan Hindu Indonesia yang mengintegrasikan dan saling menghubungkan berbagai aspek tersebut, dijadikan dasar penyusunan kurikulum baru STAHN Gde Pudja Mataram tahun 2012, yang menggantikan kurikulum lama tahun 2008. Dengan demikian, wawasan Hindu Indonesia, telah terwadahi ke dalam kurikulum Sarjana Strata satu (S1) di empat jurusan/program studi STAHN Gde Pudja Mataram, yaitu Program Studi Pendidikan Agama Hindu, Program Studi Hukum Agama Hindu, Program Studi Penerangan Agama Hindu dan Program Studi Filsafat Agama Hindu termasuk satu program pascasarjana (S2) Program Studi Ilmu Komunikasi Hindu yang mulai beroperasi tahun 2012.

Dalam penerimaan mahasiswa baru tahun 20013/2014, STAHN Gde Pudja Mataram menyediakan bea siswa kepada 100 (seratus) orang calon mahasiswa yang mendaftar pertama, dan asrama mahasiswa tanpa dipungut biaya (gratis) bagi mahasiswa dari luar Mataram dan Pulau Lombok. Nah, bagi teman-teman di Provinsi NTB maupun Bali, manfaatkan kesempatan, raih beasiswa dan perdalam ilmu keagamaan melalui STAH Negeri Gde Pudja Mataram.  adv