Racun Nikotin

Selamatkan Generasi Muda dari Racun Nikotin
Monday, March 24th, 2014
h4c

Data survey yang memperlihatkan lebih dari 37 persen remaja Indonesia terbiasa merokok sungguh memprihatinkan. Di tengah berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan melalui program-program Pro Rakyat, promosi penjualan rokok justru semakin menjadi-jadi. Lihat saja di Kota Denpasar, media promosi rokok semakin canggih, terpampang di tempat strategis, bahkan di depan sekolah dimana ratusan remaja sedang mengenyam pendidikan.

Makin maraknya media promosi produk rokok di Bali dan makin seringnya Bali diincar menjadi tempat penyelenggaraan pertemuan perusahaan rokok internasional membuat sejumlah akademisi Unud angkat bicara. Akademisi Fakultas Kedokteran Unud yang juga Ketua Yayasan Kerti Praja Prof.Dr.dr. Wirawan secara tegas mengatakan Pemerintah Provinsi Bali harus menolak semua bentuk pertemuan internasional di Bali jika pertemuan itu berkaitan dengan promosi rokok atau tembakau. Hal ini karena Provinsi Bali sudah ada Perda Kawasan Tanpa Rokok. Kata dia, semua Negara di dunia menolak kegiatan promosi perdagangan rokok kecuali Indonesia dan Somalia tapi Somalia menghadang kegiatan promosi yang berhubungan dengan produk tembakau. Hanya Indonesia yang masih ramah dengan perdagangan tembakau. Indonesia dipermalukan, dilecehkan karena Indonesia dan Bali sudah ada payung hukum yang melarang promosi rokok.
Ketua Jaringan Pengendalian Tembakau Bali dr. Putu Ayu Swandewi Astuti menga­takan dunia akan menertawakan Indonesia jika pertemuan internasional untuk promosi rokok dilaksanakan di Bali karena Bali sudah ada Perda anti rokok.Ia mengatakan sejumlah perwakilan dari Indonesia, Kamboja, India, Myanmar, Nepal, Timor Leste, Amerika Serikat dan Vietnam mengharapkan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Provinsi Bali melarang perusahaan rokok luar negeri mempromosikan perdagangan tembakau di Indonesia.

Akademisi Unud yang juga Ketua IATMI Bali dr.Parta Muliawan mengharapkan semua pihak harus berusaha untuk menggagalkan setiap even internasional yang mempromosi produk rokok atau tembakau karerna sangat merugikan Bali. Kata dia, ini tantangan bersama dalam menjaga Bali dari ancaman rokok yang adalah salah satu pembunuh. Masyarakat Bali harus mengamankan Perda Kawasan Tanpa Rokok.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Ir. Titik Suharyati meminta agar berbagai pameran perdagangan produk tembakau di Bali dilarang karena sangat berdampak bagi anak-anak dan kaum perempuan. Ia menjelaskan saat ini sudah banyak anak dan perempuan yang kecanduan merokok. Ia juga merasa heran karena setelah Bali memiliki Perda kawasan tanpa rokok, banyak yang meledek dengan menyelenggarakan even yang mempromosikan rokok.

Menurut Dr. Ayu Rai,MPH dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dinas Kesehatan tetap berkomitmen untuk menyosialisasikan Perda Kawasan Tanpa Rokok. Komitmen ini dilaksanakan oleh tim yang dibentuk Dinas Kesehatan dengan tugas melaksanakan sosialisasi Perda KTR. Dan Dr. Eka Putra dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar menegaskan menolak promosi produk rokok atau tembakau oleh perusahaan internasional karena Bali termasuk Kota Denpasar sudah ada Perda Kawasan Tanpa Rokok.