Refleksi Akhir Tahun 2013

Pendidikan Tengah Sakit Jiwa
Thursday, February 27th, 2014
Tahun 2013 dengan seluruh pengalaman suka dan duka, untung dan malang telah ditinggalkan dan kini memasuki tahun “kuda” 2014. Pengalaman sepanjang tahun 2013 pantas menjadi bahan refleksi agar bisa melakukan perubahan di tahun 2014, termasuk perubahan di bidang pendidikan.

Dan sejumlah pakar pendidikan yang juga akademisi pada akhir tahun 2013 melakukan refleksi terhadap penyelenggaraan pendidikan nasional sepanjang tahun 2013 lalu. Misalnya Universitas Muhamadyah Malang menggelar “Refleksi Pendidikan Akhir Tahun FKIP UMM”, Kamis (12/12/2013) lalu. Hadir tiga pembicara yakni Dr. Hartono,M.Pd Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhamadyah Malang, Guru Besar Universitas Negeri Malang Prof.Dr. I Nyoman S Degeng dan Pakar Kebudayaan UMM Dr Arif Budi Wurianto M.Si.

Menurut Dr. Hartono,M.Pd, yang menjadi problem utama pendidikan di Indonesia bukan soal konsep dan filosofinya.Secara paradigmatik, pendidikan di Indonesia sudah tuntas namun yang belum tuntas adalah prakteknya dan ini berkaitan erat dengan orang-orangnya. Yang dimaksudkan dengan orang-orang adalah pembuat kebijakan, pengambil keputusan dan pelaksana kebijakan itu di lapangan yakni para dosen dan guru.

Guru Besar Universitas Negeri Malang Prof.Dr.I Nyoman S Degeng, berpendapat krisis pendidikan bukan masalah normatif melainkan fenomena kejiwaan, pendidikan di Indonesia tengah sakit jiwa. Ia memberi contoh, saat ini marak dengan rasa tidak percaya terhadap segala sesuatu sehingga terbangun kebiasaan dalam pembelajaran yakni mencari yang salah, bukan mencari yang benar. Kata dia, pekerjaan dosen dan guru saat ini adalah mengoreksi tugas peserta didik pada hal mengoreksi itu sama dengan mencari-cari kesalahan.

Pekerjaan mencari-cari kesalahan atau rasa curiga itu, kata Prof. Nyoman, akhirnya menyebar ke seluruh dimensi kehidupan. Misalnya polisi curiga pada pengendara, atas curiga pada bawahan, orang tua curiga pada anaknya, guru curiga pada murid sebaliknya murid curiga pada gurunya, atasan curiga pada bawahan dan bawahan curiga pada atasan dan sebagainya. Hal ini terjadi karena guru terbiasa mengajarkan siswa menjadi sosok yang penuh curiga.
Menurut Prof. Nyoman negara-negara yang kualitas pendidikannya baik justru karena di negara tersebut dibangun interaksi antar individu yang didasarkan pada saling percaya. Ia memberi contoh Finlandia adalah negara dengan kualitas pendidikan nomor satu di dunia. Kualitas pendidikan tersebut sebagai hasil dari komitmen semua masyarakatnya membangun rasa saling percaya.

Dikatakannya, kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah, salah satu sebab adalah karena tidak adanya interaksi saling percaya antar individu. Rasa tidak percaya antar individu, saling curiga dan sikap mudah bimbang serta gampang khawatir dan tidak sabaran menjadi penyebab terus rendahnya kualitas pendidikan. Mudah bimbang, saling curiga, gampang khawatir dan tidak sabaran terlihat jelas dengan dilakukannya uji coba kurikulum. Prof. Nyoman mengakui filosofi pendidikan di Indonesia sudah bagus, dan jika bangsa ini jiwanya sehat, tuntaslah masalah pendidikan bangsa.
Pakar kebudayaan UMM Dr Arif Budi Wurianto M.Si menegaskan, setiap masyarakat Indonesia sesungguhnya adalah guru. Seorang atasan guru bagi bawahannya, seorang pejabat guru bagi rakyatnya, seorang ayah guru bagi anaknya.Bahkan, setiap orang adalah guru bagi teman-temannya.Karena itu masyarakat Indonesia harus punya jiwa yang sehat dan karakter yang kuat, karena setiap apapun yang dilakukan pasti berpengaruh pada orang-orang di sekitarnya. Menurutnya selama ini pendidikan di Indonesia kurang menyentuh sisi humanis itu dan terlalu menekankan sisi intelektualnya. v gus