Rokok, Dibayar Mahal Untuk Membunuh Diri

Monday, June 16th, 2014
Ketua IAKMI Bali I Made Kerta Duana,MPH  saat menjelaskan materi bahaya rokok bagi kesehatan
Seorang pembunuh dibayar mahal untuk mengeksekusi orang yang ingin kita singkirkan. Tetapi rokok adalah pembunuh yang kita bayar mahal untuk membunuh diri kita sendiri. Rokok kini menjadi predator yang siap memangsa siapa saja termasuk anak dan remaja. Rokok adalah jalan tol menuju dunia narkoba, predator yang juga mematikan.

Rokok menjadi salah satu penyebab timbulnya berbagai penyakit yang mematikan. Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Bali I Made Kerta Duana,MPH di hadapan 30 remaja se-Bali, Minggu (18/5) memaparkan data Riskesdes 2013, 20 juta orang penaylit paru menahun, 5 juta orang diabetes, 4 juta orang penyakit jantung, 3 juta orang kanker dan 3 juta orang stroke. Di Indonesia prevalensi perokok cenderung menaik dari tahun ke tahun. Tahun 2007 ada 65,6 persen laki-laki merokok dan 34,3% perempuan merokok. Tahun 2013 laki-laki merokok naik 68,8% dan perempuan merokok 36,3 persen.

Sungguh miris, 80% perokok justru ada di Negara sedang berkembang atau Negara miskin. Tembakau sebagai penyebab 5,5 juta kematian di dunia dan setiap 6,5 detik terjadi satu kasus kematian. Di Indonesia terdapat 300.000 kematian setiap tahun akibat rokok. Prevalensi perokok 15 tahun ke atas sesuai data Riskesdes 2007 mencapai 33,4% dan tahun 2010 mencapai 34,7%, perokok laki-laki di atas 15 tahun pada tahun 2007 sebanyak 65,29% dan tahun 2010 menumbus angka 65,9%. Perokok perempuan 15 tahun ke atas tahun 2007 menembus angka 5,06% dfan tahun 2010 capai 4,2% sedangkan penduduk terpapar asap rokok orang lain tahun 2007 capai 84,5% dan tahun 2010 capai 76,1%. Data Global Youth Tobacco Survey di Indonesia tahun 2009 menunjukkan 20,3% pelajar SMP merokok. Miris dan menyedihkan bukan?

Rokok bukan saja membunuh yang merokok tetapi juga orang di sekitarnya yang disebut dengan perokok pasif. GATS 2011 dan GYTS 2009 memaparkan, 51,3% orang dewasa terpapar asap rokok orang lain di tempat kerja, 78,4% orang dewasa terpapar asap rokok orang lain di rumah dan 85,4% orang dewasa terpapar asap rokok orang lain di restoran. Lalu ada 68,8% remaja usia 13-15 tahun terpapar asap rokok orang lain di rumah dan 78,1% remaja 13-15 tahun terpapar asap rokok orang lain di luar rumah.

Bagaimana dengan Bali? Hasil penelitian Dinas Kesehatan Kota Denpasar kerjasama dengan IAKMI Bali menunjukkan 34,5% remaja Kota Denpasar merokok terdiri dari remaja laki-laki 95,5% dan remaja perempuan 1,5%. Data PHBS 2009 menunjukkan 64% masyarakat Kota Denpasar merokok dalam rumah. Pada hal Kota Denpasar adalah Kota sehat dan Kota Layak Anak.

Mengapa banyak remaja yang sudah merokok? Produsen rokok memanfaatkan lemahnya political will pemerintah, memanfaatkan tidak diratifikasinya FCTC, memanfaatkan ketidakpahaman masyarakat, memanfaatkan ketidakberdayaan masyarakat, menyebarkan mitos-mitos seputar rokok dan TAPS industry rokok. Remaja perokok adalah korban eksploitasi industry rokok. Remaja adalah target pasar untuk menggantikan perkok senior yang meninggal atau berhenti merokok. Semakin dini remaja merokok semakin besar keuntungan bagi industry rokok. Dan remaja sangat loyal terhadap merek lokok yang dikonsumsinya.
dr Gede Wira Sunetra


Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan lingkungan (P2PL) dr Gede Wira Sunetra pada kesempatan tersebut juga menjelaskan tentang Perda Kawasan Tanpa Rokok. Ia mengatakan latar belakang Perda Kawasan Tanpa Rokok adalah adanya bahaya asap rokok. Katanya, 98% produk tembakau di Indonesia digunakan untuk rokok. Rokok adalah produk yang berbahaya dan adiktif, berisi 4000 bahan kimia, 69 diantaranya karsinogenik. Zat berbahaya dalam rokok antara lain tar, karbonmonoksida, sianida, arsen, formalin dan nitrosamine.

Jadi, harus ada gerakan untuk menyelamatkan masa depan anak dan remaja dengan stop rokok sekarang juga. Kalau Anda ingin cantik, ganteng, cerdas, tidak pikun di usia tua, berhentilah merokok, bukan nanti, tetapi sekarang juga. Ini kesaksian saya, seandainya saya tidak berhenti merokok duapuluh tahun lalu, saya sudah mati karena muntah darah akibat merokok Bentoel Biroe 6 bungkus persehari semalam. Artikel ini saya tulis tanggal 25 Mei 2014 persis di ulang tahun saya yang ke-60. Saya bersyukur karena saya masih ber “cogito ergo sum”, saya berpikir maka saya ada.Saya masih hidup sampai saat ini.