Rokok Mengancam Remaja

Rokok Mengancam Remaja dan Perempuan Indonesia
Monday, March 24th, 2014
h4

Meskipun Provinsi Bali sudah memiliki payung hukum yang mengatur perilaku merokok yakni Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) namun media promosi produk rokok masih terpampang di sejumlah tempat strategis Kota Denpasar dan Ibukota Kabupaten di Bali. Menurut hasil survey 37% remaja Indonesia terbiasa merokok dan 89,3% remaja merokok karena melihat iklan baik di media cetak, elektronik maupun media balihoo.

Dampak merokok yang paling dirasakan secara langsung maupun tak langsung adalah kaum perempuan, yang menghirup asap rokok dari lingkungan keluarganya maupun dari lingkungan masyarakat dimana kaum perempuan menjadi pihak yang diabaikan. Misalnya di tempat-tempat ramai, pada pertemuan-pertemuan dan perhelatan lainnya dengan massa laki-laki dominan, kaum perempuan menjadi pihak yang mengisap asap rokok dari perokok aktif yang adalah laki-laki.
Karena rokok sangat membahayakan kesehatan seperti munculnya penyakit kanker, kardiovaskuler, impotensi, gangguan kehamilan dan janin serta memperparah penyakit lainnya seperti TBC, DM, Asthma dan lain-lain maka bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Sedunia 8 Maret, kiranya perlu ada gerakan untuk menyadarkan masyarakat perokok tentang bahaya merokok, bukan saja bagi dirinya tetapi juga orang lain di sekitarnya, termasuk perempuan.

Rokok kini menjadi ancaman bagi kaum remaja Indonesia, bukan saja remaja laki-laki tetapi juga remaja perempuan. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh sebuah lembaga penelitian, diketahui bahwa 37 persen pelajar di Indonesia dilaporkan biasa merokok. Di Indonesia rokok dijual dan dipromosikan secara gampang sehingga tidak heran jika 37 persen pelajar di Indonesia dilaporkan biasa merokok.

Mengapa remaja laki-laki dan perempuan di Indonesia merokok, ternyata pemicunya adalah iklan promosi baik melalui media cetak, media elektronik maupun media-media lainnya yang dengan mudah diakses di tempat-tempat strategis. Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sebesar 89,3 persen remaja Indonesia merokok karena melihat iklan baik di media cetak, maupun elektronik. Berdasarkan data tersebut, jumlah perokok yang berpendidikan tinggi berjumlah sekira 21,5 persen dan 23,3 persen berpendidikan rendah. Sementara untuk status ekonomi, sebanyak 32,3 persen perokok tergolong miskin dan 24,3 persen perokok yang tergolong kaya.
Ketua BTCI Bali Made Kerta Duana,SKM,MPH membenarkan bahwa para remaja Indonesia termasuk di Bali kini ada dalam ancaman rokok. Para remaja SMP dan SMA/SMK sudah banyak merokok tanpa mereka sadari betapa berbahayanya rokok bagi kesehatan. Karena itu sangat diharapkan peran media dalam memberikan pencerdasan dan informasi yang detail tentang dampak merokok bagi kesehatan.

Selain itu, menurut dia, perlu terus diupayakan agar Bali jangan sampai dimanfaatkan oleh perusahaan rokok dari luar negeri untuk mempromosikan produk-produk rokoknya. Ia memberi contoh sebuah perusahaan rokok ternama dari Jerman mengagendakan pertemuan bertajuk Inter-Tabac Asia di Bali Nusa Dua Convension Center (BDCC) Nusa Dua 27-28 Pebruari 2014 namun ditentang oleh para penggiat Kesehatan Masyarakat yang dibantu oleh media cetak maupun elektronik. Dan Gubernur Bali pun tak mengijinkan kegiatan itu dilaksanakan di Bali dengan alasan Bali telah memiliki Perda KTR dan tidak mempunyai industry rokok. Hasilnya pertemuan Inter Tabac Asia dibatalkan.

Diharapkan media tetap secara gencar membantu penolakan terhadap berbagai agenda pertemuan internasional di Bali maupun tempat lainnya di Indonesia yang ada kaitannya dengan promosi rokok.Ia juga mengkritisi makin maraknya media promosi rokok di tempat umum. Baliho dan media promosi rokok makin bertebaran di tempat umum, ini tanda Perda Kawasan tanpa Rokok tak ada apa-apanya. Bali harus menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk menolak promosi rokok demi pertumbuhan generasi yang sehat dan demi menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat.