Seminar Pelestarian Bahasa Ibu

Memperkuat Jati Diri Bangsa yang Majemuk
Tuesday, March 5th, 2013
SEMINAR
Dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional, Program Studi Magister dan Doktor Linguistik Unud menggelar Seminar Nasional Bahasa Ibu VI. Seminar berlangsung di auditorium Lantai 3 Gedung Pascasarjana Kampus Unud Jalan Sudirman Denpasar, Jumat (22/2/2013) dan Sabtu (23/2/2013).

Menurut Ketua Panitia Ni Ketut Ratna Erawati, tujuan diselenggarakan seminar ini adalah untuk mengkaji dan memerikan kekayaan bahasa dan sastra dalam rangka pengembangan linguistik, ilmu sastra, keberaksaraan dan kelisanan baru. Selain itu untuk mengkaji khasanah makna dan nilai yang terkandung dalam bahasa dan sastra daerah demi pembentukan karakter dan penguatan jati diri bangsa Indonesia.

Seminar juga betujuan membangun kerangka pemberdayaan bahasa dan sastra Indonesia dan daerah dalam rangka pengembangan fungsi sosial kultural secara berimbang sebagai bahasa ibu. Dan juga membangun jejaring kerjasama di antara pemerhati, pengkaji, pencinta dan pelestari bahasa ibu secara bersistem dan berkesinambungan.

SEMNAR
Menurut Ketua Program Doktor S3 Linguistik Prof.Dr. Aron Meko Mbete, bahasa ibu merupakan bahasa yang mempunyai kedekatan dengan penuturnya karena bahasa tersebut digunakan sejak dini. Masyarakat Indonesia, sebagian besar bahasa ibu adalah bahasa lokal yang berfungsi sebagai bahasa daerah sedangkan bahasa nasional yang diakui adalah bahasa Indonesia. Namun sejalan dengan perkembangan jaman telah banyak dijumpai bahwa bahasa Indonesia dapat merupakan bahasa ibu karena digunakan sejak dini.

Lebih lanjut Prof. Aron Meko Mbete katakan, pergeseran bahasa Indonesia dari bahasa nasional menjadi bahasa ibu disebabkan karena kurangnya minat menggunakan bahasa lokal oleh penuturnya dengan berbagai alasan, salah satunya adalah anggpan bahwa bahasa lokal kurang berprestise. Adanya fakta bahwa beberapa bahasa lokal ternyata memiliki penutur yang semakin berkurang telah menyebabkan keprihatinan. Keprihatinan mendalam terhadap kondisi bahasa ibu menyebabkan Unesco menetapkan tanggal 21 Pebruari sebagai Hari bahasa Ibu Internasional.

Menurut Prof. Aron Meko Mbete seminar ini bertujuan untuk meningkatkan perhatian serta meningkatkan kebanggaan terhadap bahasa ibu (bahasa daerah) agar kebertahanan bahasa ibu tetap berlanjut agar keragaman budaya dan keunikannya dapat terjaga baik. Prof. Aron mengharapkan agar seminar ini dapat menggugah keinginan para peserta untuk tetap menjaga dan mengembangkan bahasa ibu sehingga menjadi bahasa yang mampu menjadi wadah komunikasi yang berprestise.  gus