Siswa Tidak Lulus Terbanyak di Buleleng

Saturday, June 7th, 2014
Siswa Tidak Lulus Terbanyak di Buleleng
Kadisdikpora Provinsi Bali TIA Kusuma Wardhani mengumumkan tingkat kelulusan UN 2014 menurut Program di SMA/MA yakni Program Bahasa, Program IPA dan Program IPS. Saat jumpa pers dengan awak media Senin (19/05) TIA Kusuma Wardhani mengatakan siswa tidak lulus terbanyak dari Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Karangasem.

Untuk program Bahasa jumlah peserta 3.560 orang, lulus 3.559 orang atau setara 99,97 persen sedangkan yang tidak lulus 1 orang atau setara 0,03 persen. Satu siswa yang tidak lulus adalah di Bangli yang menyertakan 222 siswa dan dinyatakan lulus 221 atau setara 99,55 persen, tidak lulus 1 orang atau 0,45 persen. Peserta UN Program Bahasa di Kota Denpasar 60 siswa, Gianyar 613 siswa, Klungkung 463 siswa, Buleleng 1.015 siswa, Jembrana 206 siswa, Tabanan 209 siswa dan Badung 149 siswa semuanya lulus 100 persen. Untuk provinsi jumlah peserta 3.560, lulus 3.559 atau 99,97 persen dan tidak lulus 1 siswa atau 0,03 persen.Nilai tertinggi dan terendah nilai akhir UN Program Bahasa; Bahasa Indonesia tertinggi 9,60 terendah 1,60, Bahasa Inggris tertinggi 9,20 terendah 1,80, Matematika tertinggi 10,00 terendah 1,00, Sastra Indonesia tertinggi 10,00 terendah 3,00, Antropologi tertinggi 8,60 terendah 1,60 dan Bahasa Asing tertinggi 10,00 terendah 1,20.

Untuk Program IPA jumlah peserta UN 14.183 orang dan dinyatakan lulus 14.181 orang atau setara 99,99% sedangkan 2 orang tidak lulus atau setara 0,01%. Dua siswa tidak lulus itu seorang dari Kabupaten Buleleng dan seorang lagi dari Tabanan. Kota Denpasar peserta UN Program IPA 4.176 siswa, Gianyar 1.371 siswa,Bangli 539 siswa,Klungkung 795 siswa,K.Asem 1.032 siswa, Jembrana 979 siswa dan Badung 2.099 siswa semuanya lulus 100 persen. Kabupaten Buleleng jumlah peserta 1.777 siswa dinyatakan lulus 1.776 atau 99,94 persen sedangkan tidak lulus 1 orang atau 0,06 persen. Kabupaten Tabanan jumlah peserta 1.415 siswa, lulus 1.414 siswa atau 99,93 persen, tidak lulus 1 orang atau 0,07 persen. Nilai tertinggi dan terendah UN Program IPA, Bahasa Indonesia tertinggi 10,00 terendah 1,40, Bahasa Inggris tertinggi 9,80 terendah 2,00, Matematika tertinggi 10,00 terendah 0,75, Fisika tertinggi 10,00 terendah 1,25, Kimia tertinggi 10,00 terendah 1,25 dan Biologi tertinggi 10,00 terendah 1,25.

Untuk UN Program IPS jumlah peserta 8.616 siswa, lulus 8.541 siswa atau setara 99,13% dan tidak lulus 75 orang atau setara 0,87%. Siswa tidak lulus adalah di Kabupaten Buleleng, Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Bangli. Di Kota Denpasar peserta UN Program IPS 1.711 siswa, Gianyar 508 siswa dan Badung 1.117 siswa semuanya lulus 100 persen. Kabupaten Bangli 259 peserta, lulus 254 siswa atau 98,07 persen dan tidak lulus 5 siswa atau 1,93 persen. Klungkung peserta 502 siswa, lulus 501 siswa atau 99,80 persen, tidak lulus 1 siswa atau 0,20 persen. Kabupaten Karangasem peserta 1.038 siswa, lulus 1.024 siswa atau 98,64 persen, tidak lulus 14 siswa atau 1,35 persen.

Kabupaten Buleleng peserta 1.655 siswa, lulus 1.602 siswa atau 96,80 persen dan tidak lulus 53 siswa atau 3,20 persen. Kabupaten Jembrana peserta 1.047 siswa lulus 1.046 siswa atau 99,90 persen, tidak lulus 1 siswa atau 0,10 persen. Sedangkan Kabupaten Tabanan peserta 779 siswa, lulus 778 siswa atau 99,87 persen, tidak lulus 1 siswa atau 0,13 persen. Nilai akhir UN tertinggi dan terendah adalah Bahasa Indonesia tertinggi 9,80 terendah 1,00, Bahasa Inggris tertinggi 9,80 terendah 1,40, Matematika tertinggi 10,00 terendah 0,50, Ekonomi tertinggi 9,75 terendah 0,75, Sosiologi tertinggi 9,60 terendah 0,80 dan Geografi tertinggi 9,40 terendah 0,60.

Menjawab pertanyaan wartawan, mengapa jumlah siswa tidak lulus seolah menjadi langganan Kabupaten Buleleng dan Karangasem, TIA Kusuma Wardhani mengatakan kedua kabupaten ini tergolong kabupaten miskin. Para siswa yang dinyatakan tidak lulus itu juga termasuk yang drop out atau mereka yang tidak mengikuti Ujian Nasional dengan berbagai alasan. Namun pihak Disdikpora Provinsi Bali akan melakukan koordinasi dengan Disdikpora Kabupaten bersangkutan untuk melakukan evaluasi guna menemukan jawaban mengapa tingkat ketidaklulusan di Buleleng dan karangasem cukup tinggi.