Tajuk

Pendidikan dan Kebangkitan Generasi Emas
Tuesday, June 17th, 2014
Bulan Mei 2014 ini ada dua hari penting yang pantas dijadikan momentum untuk merefleksikan kembali dunia pendidikan nasional dan gerakan untuk membangkitkan semangat menggapai masa kejayaan, terciptanya Generasi Emas Indonesia. Diproyeksikan pada tahun 2045 harus bermunculan Generasi Emas, generasi yang cerdas, berkarakter, bermoral atau menurut Mendikbud Muhammad Nuh, Generasi yang mampu ‘Berpikir Orde Tinggi’.

Di tengah gencarnya upaya untuk bergerak menuju era Generasi Emas 2045, dunia pendidikan Indonesia dirundung kalbu dengan munculnya berbagai permasalahan seperti merosotnya moralitas pendidik, merosotnya moralitas penyelenggara negara dengan memberikan contoh buruk pada generasi muda seperti korupsi, kriminalitas, perdagangan obat-obat terlarang dan lain-lain.

Bayangkan saja, kekerasan seksual yang menimpa para siswa bahkan murid Taman Kanak-Kanak, perkosaan siswi, bahaya pedofilia, peredaran narkoba di lingkungan sekolah, peredaran video porno di HP dan Laptop para siswa, semua itu adalah ancaman yang mampu menggagalkan upaya penciptaan Generasi Emas 2045. Peredaran video porno, narkoba dan kriminalitas di sekolah adalah tanda-tanda jaman yang memberi sinyal, kalau tidak diselesaikan, kita akan menuju masa depan dengan sumber daya manusia berkarakter perunggu bahkan berkarakter seperti besi berkarat, bukan berkarakter murni seperti emas.

Karena itu, gerakan untuk membangun karakter bermoralitas tinggi, yang menjunjung tinggi hal-hal yang positif mutlak perlu dilakukan. Pendidikan karakter melalui pendidikan moral, pendidikan budi pekerti, pendidikan agama, pendidikan berbangsa dan bernegara harus dilakukan, bukan secara aksidental belaka tetapi terencana, bahkan harus masuk dalam kurikulum.

Untuk itu pula, dunia pendidikan harus bebas dari pengaruh politik dan campur tangan sekelompok orang yang getol memperjuangkan hak sekelompok orang di sekolah, tetapi dengan mengabaikan hak kelompok lainnya. Dunia pendidikan terutama sekolah harus diberikan otonomi untuk mengatur diri sendiri terutama untuk hal-hal yang teknis dalam keseharian, yang tak diatur dalam peraturan perundang-undangan atau termuat dalam kurikulum. Sebab jika sekolah kehilangan otonomi, sekolah akan menjadi ajang pembentukan opini publik oleh sekelompok orang dan muncul saling fitnah. Sekolah harus bersih dari pikiran jahat orang-orang yang berdiri di luar pagar. Semoga.