Tajuk : Nasib Bahasa Ibu

Tuesday, March 5th, 2013
Bahasa Ibu atau bahasa daerah kini semakin terpinggirkan. Guru Besar Linguistik Fakultas Sastra Universitas Udayana Prof.Dr. Aron Meko Mbete menyinalir bahasa Ibu kini sudah bergeser dari bahasa daerah ke bahasa nasional. Ini sangat mengancam kelestarian bahasa daerah.

Banyak orang kini berpikir bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam keluarga atau dalam pergaulan sehari-hari adalah bahasa ibu atau bahasa daerahnya. Hal ini karena kurangnya pewarisan dari keluarga itu sendiri. Keluarga, yang terdiri dari ayah dan ibu, yang masih bisa berbahasa Ibu (bahasa daerah) enggan mewariskan bahasa ibu itu kepada anak-anak yang mereka lahirkan. Akibatnya anak-anak cenderung menganggap bahasa Indonesia adalah bahasa daerahnya.

Sungguh, ini adalah kenyataan. Sebuah keluarga dari desa di Bali tinggal di Kota Denpasar, lalu anak-anaknya tidak dibiasakan berbahasa Bali, hanya fasih berbahasa Indonesia, mungkin jumlahnya hanya kecil saja, tetapi ini adalah ancaman bagi punahnya sebuah bahasa daerah. Para perantau asal NTT yang tinggal di Bali dan melahirkan anak-anak di Bali tidak mewariskan bahasa daerahnya. Demikian juga seorang Sunda menikah dengan seorang Jawa melahirkan anak-anak, tidak mewariskan bahasa Sunda maupun bahasa Jawa.

Kita perlu satu gerakan untuk mengembalikan kebesara budaya leluhur, yang bukan saja mewariskan situs-situs kebudayaan tetapi juga bahasa dan sastra daerah. Banyak orang mungkin masih berpikir Bahasa Bali akan tetap lestari meskipun mungkin diabaikan dalam upaya pewarisannya karena melekatnya budaya Bali dan agama Hindu. Tetapi lonjakan perkembangan dan perubahan jaman terjadi demikian cepat, dan dapat berpengaruh terhadap kemapanan bahasa Ibu, bahasa daerah warisan leluhur kita termasuk Bahasa Bali.

Mulai sekarang ini semua orang Indonesia harus mendengungkan seruan, kembali ke bahasa Ibu, sambil tetap mengakui berbahasa satu, bahasa Indonesia dan bilamana sempat dapat menguasai bahasa asing. Ingat, di Kalimantan sudah ada 20-an bahasa daerah yang punah. Di NTT sudah ada 10-an bahasa ibu yang punah. Jangan sampai suatu saat semua bahasa Ibu punah dan kita kehilangan identitas sebagai bangsa yang “Berbhineka Tunggal Ika”.